<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Rachmaona's Blog</title>
	<atom:link href="http://rachmaona.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rachmaona.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Tue, 15 Dec 2009 14:48:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='rachmaona.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Rachmaona's Blog</title>
		<link>http://rachmaona.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://rachmaona.wordpress.com/osd.xml" title="Rachmaona&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://rachmaona.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Internet Vs Pendidikan: &#8220;Bukan Sekadar Minim Infrastruktur tetapi Budaya Belajar Ruang Kelas&#8221;</title>
		<link>http://rachmaona.wordpress.com/2009/12/15/internet-vs-pendidikan-bukan-sekadar-minim-infrastruktur-tetapi-budaya-belajar-ruang-kelas/</link>
		<comments>http://rachmaona.wordpress.com/2009/12/15/internet-vs-pendidikan-bukan-sekadar-minim-infrastruktur-tetapi-budaya-belajar-ruang-kelas/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Dec 2009 14:48:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rachmaona</dc:creator>
				<category><![CDATA[education]]></category>
		<category><![CDATA[Microsoft Bloggership 2010]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rachmaona.wordpress.com/?p=70</guid>
		<description><![CDATA[Manusia adalah bentuk gabungan dari jiwa dan raga. Arah gerak raga tergantung pada arah gerak jiwanya. Arah gerak jiwa bergantung pada makna yang diisikan ke dalamnya. Proses pengisian makna untuk menuntun arah gerak jiwa itu bergantung pada pendidikan yang diikuti selama hidupnya. Dalam bahasa Yunani pendidikan adalalah “Pedagogik” yaitu ilmu menuntun anak. Bangsa Jerman memberikan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rachmaona.wordpress.com&amp;blog=5674753&amp;post=70&amp;subd=rachmaona&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p>
<p>Manusia adalah bentuk gabungan dari jiwa dan raga. Arah gerak raga tergantung pada arah gerak jiwanya. Arah gerak jiwa bergantung pada makna yang diisikan ke dalamnya. Proses pengisian makna untuk menuntun arah gerak jiwa itu bergantung pada pendidikan yang diikuti selama hidupnya. </p>
<p>Dalam bahasa Yunani pendidikan adalalah “Pedagogik” yaitu ilmu menuntun anak. Bangsa Jerman memberikan pandangan tentang Erziehung yang setara dengan educare, yaitu : membangkitkan kekuatan terpendam atau mengaktifkan kekuatan/potensi anak. Dalam bahasa Jawa, pendidikan berarti panggulawentah (pengolahan), mengolah, mengubah kejiwaan, mematangkan perasaan, pikiran, kemauan dan watak, mengubah kepribadian sang anak.</p>
<p>Mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan memiliki kata dasar didik (mendidik), yaitu : memelihara dan memberi latihan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Sedangkan pendidikan  mempunyai pengertian : proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses perbuatan, cara pendidik. Ki Hajar Dewantara (bapak pendidikan Indonesia) mendefinisikan pendidikan sebagai daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya.</p>
<p>Pendidikan bukan sekedar penyampaian materi akademis tetapi lebih menyangkut pada pembangunan karakter dari peserta didik yang mengikuti proses belajar mengajar. Guru berperan sebagai fasilitator dalam pendidikan yang bertugas sebagai pemercepat proses belajar siswa (mendorong) dan bukan berfungsi sebagai tokoh yang mendominasi pendidikan. Dalam kata lain guru mendorong muridnya untuk tumbuh berdasarkan karakter dan potensinya untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya demi kreativitas yang mengarah pada kemajuan kehidupannya.</p>
<p>Internet dan Pendidikan<br />
Berawal dari sebuah sejarah singkat aktivitas online melalui jaringan paket radio pada tahun 1993-1995 di Jawa Barat. Aktivitas tersebut akhirnya dapat menggabungkan sekolah-sekolah seperti STM Pembangunan di Cimahi, UNPAD, UNPAR dll menggunakan walkie talkie ke gateway di ITB. Akhirnya berlanjut pada tahun 1997-2000 dengan munculnya Jaringan AI3 Indonesia yang merupakan jaringan Internet pendidikan skala besar yang sifatnya relatif swadaya masyarakat yang pertama beroperasi di Indonesia. Kemudian melalui pengawasan Direktur Pendidikan Menengah Kejuruan di Dinas Pendidikan, DR. Gatot HP, mulai dikembangkan jaringan informasi sekolah yang menjadi tempat srharing pengetahuan antar guru SMK yang mulai mengandalkan mailing list dikmenjur@yahoo.com.<br />
Pada tahun 2004 SMK di DKI dan Jawa Barat mulai mengembangkan WAN kota dengan membuat ISP kecil agar sekolah di kota tersebut dapat mendapatkan akses internet secara bersama dengan biaya murah. Implementasi WAN tersebut akhirnya disebarkan di 30-an kota di Indonesia. WAN DKI di SMK Jayawisata yang dipimpin leh Bona Simanjuntak diakui sebagai salah satu kategori WAN yang baik. WAN DKI muncul sebagi salah satu contoh WAN karena dikelola oleh sumber daya manusia yang memiliki motivasi dan semangat juang untuk membangun jaringan di kotanya. Pada tahun 2005 SMK tersebut dinobatkan menjadi ICT Center terbaik di Indonesia (dari wikipedia).<br />
Internet sepanjang millenium baru menjadi primadona baru dalam komunikasi dan digunakan di berbagai kesempatan aktivitas manusia termasuk pendidikan. Internet dan generasi muda menjadi satu kesatuan yang menarik perhatian pasar teknologi komunikasi dan informasi, hingga pada tahun 2004 PT Telkom mengeluarkan program Internet goes to scholl. Bahkan pada tahun 2006 jaringan PT Telkom dimanfaatkan sebagai sarana penunjang pembangunan jaringan pendidikan nasional di bawah kepemimpinan Dr. Ir. Gatot Hari Priowirjono. Jaringan tersebut menghubungkan 464 titik (sampai 1 April 2007) yang menyambungkan 390 Dinas pendidikan kota/ kabupaten, 33 Kantor Dinas Pendidikan Propinsi, 20 Perguruan tinggi penyelenggara program teknisi, 3 unit Depdiknas Pusat, 2 PPPG, 5BPPLSP dan 1 LPMP.<br />
Pendidikan sebagai proses pengembangan karakter dan pengetahuan serta wawasan manusia sangat diharapkan dapat menyebar secara merata di seluruh Indonesia. Internet sangat diharapkan berperan secara aktif dalam hal pemerataan pendidikan itu, karena sarana komunikasi murah dan efektif yang dianggap dapat memeratakan pendidikan saat ini adalah internet. Televisi, radio, buku, koran, majalah, maupun media ruang kelas konvensional memiliki segala keterbatasan baik jangkauan, kecepatan, dan biaya, sedangkan internet sebagai media baru sementara ini dapat meminimalisir ketiga hambatan tersebut.<br />
Kelebihan yang dimiliki internet dibanding media pembelajaran lainnya adalah sebagai berikut:<br />
1. memudahkan peserta didik mencari bahan referensi<br />
2. mengurangi kendala jarak dalam penyampaian informasi<br />
3. memudahkan peserta didik yang memiliki kendala jarak untuk berinteraksi dengan pengajar<br />
4. kemudahakan untuk proses pemerataan informasi, pengetahuan, dan pengaruh pendidikan.<br />
pada intinya internet mengatasi kendala waktu dan jarak yang sering dihadapi peserta didik dan pengajar terutama yang memiliki akses terbatas karena tidak berada di daerah pusat ibukota. Dalam segi biaya ketika internet telah dimiliki dan dapat digunakan maka penghematan terhadap biaya komunikasi dapat dilakukan karena internet menyediakan berbagai fasilitas untuk mendukung proses komunikasi. Namun bagi mereka yang belum memiliki akses internet, pengadaan internet menjadi hal yang memerlukan investasi besar, karena pengadaan internet memerlukan pengadaan piranti pendukungnya seperti PC dan jaringan telepon/wifi/Lan dan hal inilah yang terjadi di Indonesia saat ini.<br />
Bagi negara yang memiliki luas wilayah dan jumlah penduduk besar seperti Indonesia penggunaan internet sangat membantu proses pemerataan informasi, pengetahuan dan pembangunan karakter pendidikan. Hanya saja masalah klasik berupa minimnya infrastruktur pendukung internet di Indonesia sangat terbatas. Infrastuktur tersebut berupa SDM, kesiapan piranti pendukung, dan sistem pendidikan itu sendiri.<br />
Sistem pengajaran konvensional menggunakan ruang kelas merupakan hal unik yang perlu dipertimbangkan untuk mendorong pendidikan Indonesia menjadi pendidikan virtual dengan teknologi internet. Ruang kelas dan hadirnya pengajar serta peserta didik dipandang masih perlu dilakukan karena ada proses pertukaran motivasi dan psikologi dari keduanya yang akan sulit didapat dari pendidikan virtual.<br />
Akhirnya muncullah berbagai penerapan seperti mahasiswa hanya menggunakan internet untuk menambah referensi bahan bacaan dan tetap masuk ruang perkuliahan seperti biasa. Ada juga yang menerapkan mix dan disebut sebagai Blended Learning yang menggabungkan sistem pengajaran melalui kelas dan virtual. Bahkan ada pula yang berani memberikan kelas virtual dan menjaring 24.000 mahasiswa aktif tiap semesternya seperti Binus University.<br />
Internet juga dikembangkan sebagai pusat diskusi, penyebaran informasi, hingga penilaian terhadap kinerja dosen. Internet menjadi media pembelajaran yang dapat dimanfaatkan untuk memeratakan proses pendidikan dengan meminimalisir kendala jarak, waktu dan biaya. Penerapan internet di Indonesia tidak hanya masalah infrastruktutr tetapi juga paradigma pembelajaran konvensional melalui kelas. Walaupun sudah ada model Blended learning yang berusaha memadukan unsur manfaat internet dan pengajaran konvensional, tetapi pemanfaatannya dan pengetahuan untuk menggunakannnya sementara ini terbatas. Hal penting yang perlu dilakukan adalah melakukan kajian tentang internet dan pendidikan serta mengikutsertakan pengajar dan peserta didik melalui partisipasi aktif untuk memanfaatkan internet sebagai media pendidikan. Partisipasi aktif yang dimaksud adalah peserta didik dan pengajar terlibat secara aktif dalam usaha pengembangan internet untuk pendidikan. Klub Guru Indonesia dan jaringan antar sekolah yang dibangun Telkom dapat menjadi sarana efektif untuk mendukung terciptanya hal itu. Masalah krusial pemanfaatan internet untuk pendidikan terletak pada pola pikir peserta didik dan pengajar, walaupun infrastruktur telah disiapkan jika individu yang menerima belum siap maka semuanya akan percuma. Oleh karena itu intensitas penyebaran ide pemanfaatan internet serta pencarian metode penggunaan internet tanpa menghilangkan unsur ikatan emosional dan motivasi antara pengajar dan peserta didik adalah hal yang terpenting. Program-Program seperti Internet Goes to Scholl, pemanfaatan komunitas pembelajar Online dapat menjadi pelopor dan inspirator penggunaan internet, kerjasama dengan mereka penting untuk dilakukan bukan hanya masalah pembangunan infrastruktur.  </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rachmaona.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rachmaona.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rachmaona.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rachmaona.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rachmaona.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rachmaona.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rachmaona.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rachmaona.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rachmaona.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rachmaona.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rachmaona.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rachmaona.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rachmaona.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rachmaona.wordpress.com/70/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rachmaona.wordpress.com&amp;blog=5674753&amp;post=70&amp;subd=rachmaona&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rachmaona.wordpress.com/2009/12/15/internet-vs-pendidikan-bukan-sekadar-minim-infrastruktur-tetapi-budaya-belajar-ruang-kelas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c3eac77292bc41b851e6be752fa50d4c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rachmaona</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ancaman Persaingan Ekonomi Kreatif Terhadap Nasionalisme Bangsa</title>
		<link>http://rachmaona.wordpress.com/2009/10/14/ancaman-persaingan-ekonomi-kreatif-terhadap-nasionalisme-bangsa/</link>
		<comments>http://rachmaona.wordpress.com/2009/10/14/ancaman-persaingan-ekonomi-kreatif-terhadap-nasionalisme-bangsa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Oct 2009 03:30:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rachmaona</dc:creator>
				<category><![CDATA[ekonomi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rachmaona.wordpress.com/?p=64</guid>
		<description><![CDATA[Dominasi UKM dalam Ekonomi Kreatif Ekonomi kreatif adalah wacana baru yang sedang dikaji dan dicoba untuk diimplementasi secara serius oleh pemerintah dalam hal ini Departemen Perdagangan. Dalam berbagai naskah studi ekonomi kreatif dan pemaparan Mari Elka Pangestu di media massa, ekonomi kreatif digambarkan sebagai sebuah kondisi ekonomi yang dipenuhi oleh daya kreativitas dalam hal penciptaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rachmaona.wordpress.com&amp;blog=5674753&amp;post=64&amp;subd=rachmaona&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Dominasi UKM dalam Ekonomi Kreatif</strong></p>
<p>Ekonomi kreatif adalah wacana baru yang sedang dikaji dan dicoba untuk diimplementasi secara serius oleh pemerintah dalam hal ini Departemen Perdagangan. Dalam berbagai naskah studi ekonomi kreatif dan pemaparan Mari Elka Pangestu di media massa, ekonomi kreatif digambarkan sebagai sebuah kondisi ekonomi yang dipenuhi oleh daya kreativitas dalam hal penciptaan nilai tambah, strategi manajemen, hingga kepiawaian dalam menangkap peluang. Daya kreativitas yang diharapkan bahkan hingga menyentuh pada usaha untuk menjaga kelestarian unsur budaya lokal dan lingkungan, pemanfaatan energi yang terbarukan serta kemampuan untuk berkolaborasi dan mengorkestrasi dalam satu wadah kegiatan ekonomi.</p>
<p>Secara wacana, ekonomi kreatif memiliki arah yang tidak  hanya menguntungkan secara ekonomi tetapi juga secara moral, budaya, alam dan lingkungan masyarakat. Daya kreativitas yang timbul dari ekonomi kreatif, berdampak positif terhadap peningkatan kapasitas daya saing dan inovasi. Dibalik segala manfaat yang diharapkan dari ekonomi kreatif terdapat satu kenyataan yang tidak boleh dihilangkan yaitu dominasi usaha kelas kecil dan menengah (UKM) di Indonesia.</p>
<p>UKM dengan segala kekuatannya yang terbukti tahan terhadap terpaan krisis, di sisi lain juga memiliki persoalan dan kelemahan yaitu persaingan tidak sehat diantara UKM itu sendiri hingga persaingan dengan perusahaan besar padat modal dan berkapasitas produksi massal. Persaingan sebenarnya juga dapat dijadikan faktor pemicu berkembangnya kreativitas, tetapi jika persaingan berlangsung tidak adil yang terjadi adalah melemahnya ekonomi kreatif itu sendiri.<span id="more-64"></span></p>
<p><strong>Kejahatan Persaingan dalam Ekonomi Kreatif terhadap Nasionalisme (Studi Kasus Kota Batu)</strong></p>
<p>Nasionalisme tidak akan pernah terwujud jika setiap individu dibiarkan bertarung secara bebas sehingga mereka seakan dituntut untuk lebih memikirkan keselamatan dan eksistensi diri sendiri daripada bangsanya. Industri fesyen merupakan contoh nyata dari kondisi persaingan yang tidak sehat tersebut. Pelaku usaha skala kecil dan menengah dibiarkan bertarung bebas dalam pasar, tidak hanya bertarung dengan pemodal besar bahkan produk mereka dibiarkan bertarung bebas degan produk impor. Realita persaingan yang tidak adil tersebut muncul di Kota Batu, Jawa Timur. Setelah adanya pembangunan dan pembukaan pusat perbelanjaan besar yang berada tidak jauh dari pasar tradisional, omzet penjualan pedagang di pasar tradisional menurun. Penurunan omzet bahkan terjadi hingga menjelang hari raya Idul fitri, padahal para pedagang tersebut dalam satu tahun akan mendapatkan omzet di atas rata-rata pada hari-hari menjelang perayaan Idul Fitri.</p>
<p>Persaingan yang tidak adil itulah yang perlu dicermati dalam pembangunan ekonomi kreatif. Bukan hanya penurunan omzet yang akan menyerang pelaku UKM, lebih jauh lagi jika persaingan tidak dikelola dengan baik, ekonomi kreatif hanya sekadar menghasilkan produk kreatif tanpa makna. Tanpa makna yang dimaksud adalah produk yang dihasilkan hanya menghasilkan keuntungan secara ekonomi dan tidak menyentuh nilai-nilai lain yang diharapkan dari tumbuhnya ekonomi kreatif seperti yang telah disebutkan sebelumnya.</p>
<p>Kenyataan yang demikian sebenarnya tengah terjadi pada era kini, yaitu banyaknya produk yang membanjiri pasar dan hanya memberikan profit pada sebagian orang tetapi justru memberikan kerugian bagi banyak pihak. Kerugian tersebut dapat berupa kesehatan, kelestarian alam, upah pekerja yang dibawah ketetapan pemerintah hingga hilangnya budaya bangsa.</p>
<p>Kerugian-kerugian yang ditimbulkan dari persaingan tersebut dapat dijelaskan dengan pemaparan singkat. Pada awalnya muncul sebuah produk kreatif baru di pasar yang setelah diluncurkan di pasar ternyata mendapatkan respon positif dari pasar. Melihat kesuksesan tersebut produsen lain mencoba untuk menampilkan produk yang sama dan mencoba berkreasi dengan menambahkan fitur-fitur lain agar produknya sedikit memiliki keunggulan dan perbedaan dibanding produk pendahulunya. Setelah produk pesaing muncul di pasar, produsen yang menjadi pelopor bisa jadi kalah saing karena ternyata produsen kedua memiliki produk dengan fitur berbeda tetapi memiliki keunggulan lebih. Proses tersebut akan terus berulang hingga akhirnya berakhir pada kekalahan bagi pelaku UKM yang lemah secara modal, struktur manajemen, dan kapasitas produksi. Kekalahan tersebut bahkan dapat berlangsung lebih parah jika peluang pasar ditangkap oleh produsen padat modal, seperti yang telah dipaparkan di atas.</p>
<p>Kekalahan persaingan tersebut akhirnya memicu kreativitas baru dengan memunculkan produk-produk yang berharga murah, berfitur beda, dan memiliki keunggulan berbeda, tetapi sering menimbulkan kerugian tersendiri. Berharga murah terkadang diikuti oleh kualitas rendah yang mengakibatkan kerugian secara kesehatan, merusak lingkungan dan terkadang terpaksa menurunkan upah jasa karyawan. Fitur beda dengan strategi pemasaran yang penuh dengan persuasi, akhirnya dapat menimbulkan kebutuhan baru bagi masyarakat yang pada kenyataannya masyarakat tidak membutuhkan produk tersebut. Sebagai contoh adalah kemunculan minuman isotonik yang hanya menciptakan kebutuhan baru bagi masyarakat. Sebelum kemunculan minuman isotonik masyarakat sebetulnya cukup membuat larutan oralit yang sederhana jika benar-benar kekurangan cairan, tetapi setelah muncul produk-produk minuman isotonik, masyarakat pun akhirnya menjadikannya sebagai kebutuhan. Hal tersebut berdampak negative karena kebutuhan baru berarti penambahan pengeluaran baru.</p>
<p>Yang lebih parah adalah kejadian selajutnya, yaitu pada awalnya hanya muncul satu larutan isotonik, tetapi kemudian muncul berbagai merek yang hanya memiliki sedikit perbedaan. Iklan pemasaran minuman isotonik pun akhirnya justru mengarah untuk mendidik masyarakat bahwa terus mengkonsumsi minuman isotonik setiap hari adalah salah satu kebiasaan sehat. Padahal minuman isotonik yang dibuat secara tidak alami tersebut dapat memicu timbulanya gangguan pendengaran yang disebut <em>meniere’s disease, </em>yaitu gangguan pendengaran karena terganggunya keseimbangan elektrolit<em>.</em></p>
<p>Kreativitas yang dituntut dalam ekonomi kreatif bukan hanya sekadar memodifikasi ulang produk yang sudah ada tetapi juga dituntut untuk menciptakan produk baru. Kreativitas untuk menciptakan produk baru dapat dijadikan alternatif untuk membuat persaingan menjadi lebih adil, tetapi pada kenyataannya produk baru memiliki resiko yang lebih tinggi dibanding produk-produk hasil modifikasi. Produk modifikasi lebih mudah dijalankan karena pelaku usaha dapat melihat pengalaman produsen dan kelemahan yang perlu diperbaiki dari produk sebelumnya, berbeda dengan produk baru yang memerlukan pendekatan baru terhadap pasar.</p>
<p>Dalam kajian studi yang berjudul Perkembangan Ekonomi Kreatif Indonesia oleh Departemen Perdagangan, disebutkan bahwa ada enam aktor yang akan dikolaborasikan dalam perkembangan ekonomi kreatif. Enam aktor tersebut adalah sumber daya insani (<em>people</em>), industri (<em>industry</em>), teknologi (<em>technology</em>), sumber daya (<em>resources</em>), institusi (<em>institution</em>), dan lembaga pembiayaan (<em>financial intermediary</em>). Kolaborasi tersebut diharapkan dapat menghasilkan kerjasama untuk mengoptimalkan pengembangan ekonomi kreatif, tetapi dalam paparan peran dan tugas aktor-aktor tersebut cenderung dituntut untuk terus meningkatkan kreativitas dan daya saing. Kolaborasi antara enam aktor tersebut memang mendorong tumbuhnya industri kreatif di Indonesia, tetapi pengelolaan persaingan dari banyaknya kreativitas yang akan muncul dari ekonomi kreatif kurang menjadi tugas dan tujuan dari enam aktor tersebut.</p>
<p>Departemen Perdagangan juga menyebutkan dalam Pembangunan Industri Kreatif 2025 bahwa pemerintah akan menciptakan kebijakan yang mendukung terciptanya persaingan yang sehat dalam ekonomi kreatif. Pemerintah memang sewajarnya menjadi penengah dalam persaingan usaha tetapi yang perlu diingat adalah sifat formal dari lembaga pemerintahan. Birokrasi pada lembaga pemerintahan yang formal harus mengelola persaingan pelaku usaha di Indonesia yang dapat dipastikan tengah didominasi oleh UKM dan cenderung bersifat informal.</p>
<p><strong>Pemanfaatan Komunitas untuk Mengelola Persaingan (Studi Kasus Malang Raya)</strong></p>
<p>Malang Raya merupakan gabungan dari tiga wilayah besar (Kota Malang, Kabupaten Malang dan Kota Batu) di propinsi Jawa Timur yang memiliki potensi sosial dan ekonomi strategis. Daerah bekas kerajaan Singosari ini dikelilingi oleh pegunungan tinggi sehingga memiliki iklim yang sesuai untuk daerah pertanian dan wisata alam. UKM berkembang baik di Malang Raya, tidak saja dalam bidang pertanian dan pariwisata tetapi juga dalam bidang manufaktur dan industri kreatif. Letaknya yang cukup dekat dengan kota Surabaya semakin memudahkan para pelaku UKM untuk mendapatkan bahan baku dan peluang pasar bagi produknya.</p>
<p>Industri kreatif sangat bertumpu pada kreativitas, dalam studi pemetaan industri kreatif tahun 2007 oleh Departemen Perdagangan terdapat 14 subsektor yang termasuk industri kreatif (Departemen Perdagangan RI, 2008). Kerajinan dan fesyen merupakan dua dari 14 subsektor yang dimaksud.</p>
<p>Pakis (Kabupaten Malang) merupakan salah satu sentra industri fesyen dalam bidang bordir. Para perajin bordir di daerah Pakis, sering mendapatkan pesanan untuk membuat bordir pada kain kebaya, kerudung, busana muslim, mukena hingga hiasan pada perabot rumah tangga. Harga yang mereka kenakan pada konsumen jasa bordir beragam sesuai dengan tingkat kesulitan desain yang diminta konsumen. Usaha yang ditekuni oleh perajin bordir di Pakis umumnya telah berlangsung lebih dari lima belas tahun dan terus bertahan walau dalam kondisi perekonomian yang sulit sekalipun.</p>
<p>Para perajin bordir tersebut ada yang kemudian membentuk kelompok ada pula yang tetap berdiri secara individu. Kelompok yang dibentuk pun ada dua jenis yaitu beranggotakan perajin bordir saja atau asosiasi, dan kelompok yang anggotanya heterogen terdiri dari berbagai macam pengusaha.</p>
<p>Kelompok homogen yang beranggotakan perajin bordir saja lebih cenderung difungsikan dalam hal produksi, terutama dalam berbagi order dan peningkatan keterampilan membordir. Kelompok bordir ini umumnya merupakan pengusaha skala mikro dan kecil yang memiliki kemampuan produksi terbatas baik dalam hal tenaga kerja, permodalan, maupun keterampilan. Keterbatasan tersebut, dalam kelompok dapat diolah secara unik sehingga menghasilkan suatu kekuatan baru yang menutupi kelemahan sebagai pengusaha kecil. Saat salah seorang perajin dalam kelompok mendapatkan order dan merasa memiliki keterbatasan maka ia akan menghubungi anggota lain untuk membantu menyelesaikan orderan bordir. Dari segi permodalan, jika suatu saat order yang diterima memerlukan pembelian bahan baku dalam jumlah besar dan perajin yang menerima order tersebut merasa kewalahan anggota lain akan membantu modal dengan perjanjian pembagian keuntungan. Dari segi tenaga kerja, perajin juga akan saling bantu jika salah satu anggota yang mendapatkan order bordir merasa kewalahan untuk mengerjakan seluruh order secara individu, artinya satu order dapat memberi keuntungan untuk beberapa orang. Dalam hal keterampilan pun jika satu orang perajin mendapatkan order dan merasa tidak memiliki keterampilan sesuai desain bordir yang diminta ia akan melemparkannya kepada perajin lain.</p>
<p>Dalam kelompok yang lebih heterogen tetapi dalam skala yang tetap sama yaitu pada UKM, kontak sosial yang terjadi justru lebih kompleks. Dalam kelompok yang heterogen tersebut para perajin yang berkumpul tidak hanya dari kalangan perajin bordir saja, tetapi juga perajin payet, manik-manik, aksesoris wanita, tas, kain perca, sulam pita, hingga perajin kayu yang jauh berbeda dari bidang fesyen. Komunitas ini berkumpul dalam satu wadah organisasi bernama Himpunan Wanita Pekerja Rumahan Indonesia (HWPRI). Keanggotaan HWPRI dikhususkan bagi para wirausaha skala mikro dan pekerja yang terlibat dalam UKM serta memiliki upah yang jauh dari ketetapan pemerintah.</p>
<p>Keanggotaan HWPRI memang telah ditetapkan, tetapi komunitas ini sangat terbuka terhadap kehadiran  terhadap orang-orang yang memiliki ketertarikan terhadap permasalahan UKM, peminat keterampilan kerajinan, dan kepedulian sosial. Orang-orang tersebut biasanya berasal dari lingkup perguruan tinggi, pria yang berprofesi sebagai wirausaha, ibu rumah tangga, seniman, orang-orang teknis dan lembaga sosial kemasyarakatan. Walaupun bukan merupakan wanita yang berprofesi sebagai perajin atau pekerja rumahan, kehadiran orang-orang tersebut sangat membantu HWPRI karena pengetahuan dan keterampilan yang mereka dapatkan akhirnya berkembang lebih luas. Komunitas HWPRI yang heterogen ini tidak hanya menjalin hubungan dalam hal produksi saja, tetapi juga kegiatan pemasaran, inovasi design, harga, permodalan, bertukar pengalaman hingga kegiatan sosial.</p>
<p>Khususnya dalam hal pemasaran, komunitas pengusaha mikro dan kecil yang heterogen tersebut seringkali mengikuti kegiatan pameran secara bersama-sama. Jika salah seorang anggota komunitas mendapatkan informasi kesempatan pameran, ia akan menghubungi dan mengajak anggota lain untuk turut serta dalam pameran. Mereka seringkali hanya menyewa satu stan dan mengisi stan dengan berbagai macam produk dari masing-masing anggota, sehingga biaya pameran yang harus mereka keluarkan menjadi lebih ringan. Selain itu antar anggota dalam komunitas juga turut serta mempromosikan produk dari anggota lain. Sebagai contoh salah satu perajin manik-manik ketika mendapatkan tawaran untuk payet kerudung ia tidak langsung menolak tawaran tersebut walau pada kenyataannya ia tidak memiliki kemampuan dalam bidang payet. Ketika ia mendapatkan tawaran yang demikian ia akan menghubungi anggota lain yang memiliki usaha payet dan pengusaha payet akan memberikan fee pemasaran kepada perajin manik-manik.</p>
<p>Terkadang satu perajin akan berkolaborasi dengan perajin lainya untuk menghasilkan suatu produk dengan desain yang lebih menarik. Sebagai contoh adalah kreativitas pada desain tas dan sandal yang diproduksi oleh perajin di HWPRI, perajin tas dan sepatu yang berkolaborasi dengan perajin sulam pita, painting, manik-manik dan payet menghasilkan suatu disain produk tas dan sepatu yang lebih memiliki nilai tambah dan jual yang tinggi. Sistem kolaborasi yang demikian tidak hanya menghasilkan kreativitas disain produk yang menarik tetapi juga efisiensi pada pemasaran. Efisiensi pada pemasaran yang dimaksud adalah dari satu produk yang satu produk dapat menampung kreativitas dan memberi keuntungan lebih dari satu perajin.</p>
<p>Dalam hal tukar pengalaman dan kegiatan sosial, karena komunitas HWPRI yang heterogen kegiatan tukar pengalaman menjadi kegiatan yang lebih kompleks. Kalangan perguruan tinggi mendapatkan suatu kajian yang menarik dari lapangan secara langsung, dan mereka dapat berbagi konsep serta kajian dari perguruan tinggi kepada komunitas HWPRI. Kegiatan tidak hanya berhenti hingga di situ tetapi kalangan perguruan tinggi dapat bekerjasama untuk mengembangkan dan menguji konsep mereka di lapangan, sehingga lahirlah sebuah konsep dan kajian yang lebih aplikatif. Kehadiran laki-laki dalam komunitas HWPRI juga memberikan kelebihan berupa pemahaman gender yang lebih mendalam, komunitas yang beranggotakan para wanita tersebut dapat.</p>
<p>Kedua komunitas di atas pada dasarnya memiliki kelebihan yang sama dalam mengelola persaingan, yaitu persaingan justru bukan menjadi ajang untuk saling mengalahkan tetapi menjadi sinergi yang saling menguntungkan. Perbedaan dari dua komunitas di atas adalah bahwa sinergi yang heterogen justru lebih memberikan kelebihan-kelebihan baru dalam hal kreativitas.</p>
<p>Ekonomi kreatif hanya akan menghasilkan kreativitas kosong serta tidak mampu mewujudkan nilai-nilai selain hanya nilai ekonomi jika persaingan tetap dibiarkan berlangsung secara tidak sehat. Persaingan justru akhirnya dapat melenyapkan tujuan-tujuan untuk melestarikan nilai lokal, alam, dan lingkungan masyarakat, yang sebenarnya menjadi tujuan dari ekonomi kreatif.</p>
<p>Pengendalian persaingan akan sangat sulit dilakukan jika dikontrol oleh satu lembaga yang bersifat formal, sedangkan yang dikoordinir adalah pihak yang bersifat informal. Pengendalian persaingan melalui pemanfaatan komunitas dapat menjadi alternatif untuk mengelola persaingan. Melalui komunitas pelaku ekonomi dalam ekonomi kreatif dapat berinteraksi secara langsung sehingga timbul komunikasi secara emosional dan intelektual. Komunikasi tersebut tidak hanya memicu munculnya kreativitas tetapi juga kerjasama sosial yang bermanfaat untuk menumbuhkan semangat kebersamaan.</p>
<p>Semangat kebersamaan adalah modal untuk membangun kembali nasionalisme. Semangat kebersamaan juga akhirnya melahirkan rasa memiliki dan bertanggung jawab terhadap kesejahteraan bersama, jika hal ini terwujud maka persaingan dapat dikendalikan oleh  kontrol sosial dari komunitas dan persaingan sehat pun terwujud.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rachmaona.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rachmaona.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rachmaona.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rachmaona.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rachmaona.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rachmaona.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rachmaona.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rachmaona.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rachmaona.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rachmaona.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rachmaona.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rachmaona.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rachmaona.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rachmaona.wordpress.com/64/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rachmaona.wordpress.com&amp;blog=5674753&amp;post=64&amp;subd=rachmaona&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rachmaona.wordpress.com/2009/10/14/ancaman-persaingan-ekonomi-kreatif-terhadap-nasionalisme-bangsa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c3eac77292bc41b851e6be752fa50d4c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rachmaona</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Enterpreneur Apan Sich&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</title>
		<link>http://rachmaona.wordpress.com/2009/03/16/enterpreneur-apan-sich/</link>
		<comments>http://rachmaona.wordpress.com/2009/03/16/enterpreneur-apan-sich/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Mar 2009 05:33:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rachmaona</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rachmaona.wordpress.com/2009/03/16/enterpreneur-apan-sich/</guid>
		<description><![CDATA[Pengertian Enterpreneurship dan Entrepeneur Enterpreneurship merupakan hal yang lebih merujuk kepada kepribadian dan semangat tertentu, yaitu pribadi yang mulia, kemandirian, inovasi, pengambilan keputusan dan penerapan tujuan yang telah dipertimbangkan. Entrepreneur merupakan seorang yang mempunyai mental dan semangat entrepreneurship, bermental kuat, mempunyai rasa percaya diri yang tinggi, efisiensi waktu, kreativitas, ketabahan, ulet, kesungguhan, dan bertujuan untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rachmaona.wordpress.com&amp;blog=5674753&amp;post=63&amp;subd=rachmaona&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pengertian Enterpreneurship dan Entrepeneur</strong><br />
Enterpreneurship merupakan hal yang lebih merujuk kepada kepribadian dan semangat tertentu, yaitu pribadi yang mulia, kemandirian, inovasi, pengambilan keputusan dan penerapan tujuan yang telah dipertimbangkan. Entrepreneur merupakan seorang yang mempunyai mental dan semangat entrepreneurship, bermental kuat, mempunyai rasa percaya diri yang tinggi, efisiensi waktu, kreativitas, ketabahan, ulet, kesungguhan, dan bertujuan  untuk selalu mempersiapkan pribadi maupun masyarakat agar data hidup layak sebagai manusia, sehingga kehadirannya berdampak positif bagi pengembangan dirinya sendiri, masyarakat, alam dan kehidupan (Nasution, et al 2001).<br />
 <em><br />
terus gimana cara mengenali ciri-ciri enterpreneur ??????</em><br />
<span id="more-63"></span></p>
<p><strong>Karakteristik Enterpreneur</strong><br />
Dalam buku yang berjudul “Membangun Spirit Enterpreneur Muda Indonesia” (2001), Nasution et al menguraikan karakteristik yang dimiliki oleh seorang entrepreneur sebagai berikut:<br />
-	Mempunyai N- Ach (need for achievement) yang tinggi<br />
Seorang entrepreneur mempunyai keinginan untuk selalu berpikir, bertujuan dan berbuat lebih baik,  mempunyai tujuan yang realistik dengan mengambil risiko yang telah dipertimbangkan dengan baik yang semuanya bermuara pada kemajuan dan prestasi.<br />
-	Menyukai risiko yang moderat<br />
Seorang entrepreneur mampu menciptakan dan mengambil risiko yang telah diperhitungkan, dianalisis, dan dikaitkan dengan potensi diri.<br />
-	Menyenangi pekerjaan yang berkaitan dengan proses mental dengan tujuan utama adalah pencapaian prestasi pribadi<br />
Enterpreneur merupakan seorang pengejar prestasi bukan pengejar keuntungan. Material hanya dijadikan ukuran tetapi bukan ukuran pasti dari sebuah usaha. Entrepreneur lebih memikirkan peningkatan kualitas yang telah diusahakan, serta terus menyusun strategi baru untuk kemajuan selanjutnya daripada sekadar memikirkan pencapaian materi.<br />
-	Locus of Control Internal<br />
Entrepreneur mempunyai motivasi internal yang kuat, ia mampu mandiri dan hanya sedikit membutuhkan dorongan dari pihak eksternal atau orang lain dalam mencapai kemajuan.<br />
-	Kemampuan inovasi dan kreativitas<br />
Entrepreneur adalah sosok pembaharu, penggerakperekonomian, dan innovator, sehingga seorang entrepreneur dituntut untuk lebih kreatif dan mampu menggabungkan beberapa teknik dan konsep sehingga menghasilkan ide maupun gagasan yang cemerlang.<br />
-	Cenderung berpikir panjang, memiliki potensi melakukan visi yang jauh ke depan<br />
Entrepreneur  tidak bersifat impulsive, ia mempunyai pikiran jangka panjang dan selalu memikirkan aspek keberlanjutan usaha.<br />
-	Kemandirian<br />
Entrepreneur mampu berusaha walau hanya dengan dukungan eksternal yang minim, sebab ia mempunyai motivasi internal untuk mendiri yang kuat. Namun ia sangat terbuka terhadap kritik dan saran serta mempunyai keperdulian yang tinggi terhadap lingkungan.</p>
<p><strong>Faktor yang Mempengaruhi Jiwa Enterpreneurship</strong><br />
1.	Intelegensia<br />
Intelegensia merupakan kemampuan individu secara sadar untuk menyesuaikan pemikirannya terhadap tuntutan baru, yaitu kemampuan penyesuaian mental terhadap masalah baru.<br />
2.	Latar Belakang Budaya<br />
Heimstra menyatakan bahwa manusia tidak dapat terlepas dari lingkungan sehingga secara tidak langsung tingkah laku mereka dipengaruhi oleh norma atau nilai budaya setempat. Boesch menyatakan bahwa kebudayaan adalah cara manusia membentuk dan meneropong lingkungannya, kebudayaan adalah hasil perilaku manusia, tetapi dapat membentuk dan menentukan perilaku manusia.<br />
3.	Tingkat Pendidikan<br />
Pendidikan sangat berpengaruh terhadap wawasan yang dimiliki seseorang. Semakin tinggi wawasan yang dimiliki seseorang semakin mudah menyesuaikan diri terhadap tuntutan dan perubahan.</p>
<p><em>sumber :Membangun Spirit Enterpreneur Muda Indonesia, 2001, Nasution et al</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rachmaona.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rachmaona.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rachmaona.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rachmaona.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rachmaona.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rachmaona.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rachmaona.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rachmaona.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rachmaona.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rachmaona.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rachmaona.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rachmaona.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rachmaona.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rachmaona.wordpress.com/63/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rachmaona.wordpress.com&amp;blog=5674753&amp;post=63&amp;subd=rachmaona&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rachmaona.wordpress.com/2009/03/16/enterpreneur-apan-sich/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c3eac77292bc41b851e6be752fa50d4c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rachmaona</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Entrepreneurship sebagai Sarana Optimalisasi Jati Diri</title>
		<link>http://rachmaona.wordpress.com/2009/03/14/entrepreneurship-sebagai-sarana-optimalisasi-jati-diri/</link>
		<comments>http://rachmaona.wordpress.com/2009/03/14/entrepreneurship-sebagai-sarana-optimalisasi-jati-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Mar 2009 04:46:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rachmaona</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rachmaona.wordpress.com/2009/03/14/entrepreneurship-sebagai-sarana-optimalisasi-jati-diri/</guid>
		<description><![CDATA[In this world no one is in a same condition. I’m not you and you’re not me. In a brief statement all of us in this world is different, me and you has a different role. But We are a God creature, and we dream about beautiful life base our capability. Entrepreneurship assist you to [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rachmaona.wordpress.com&amp;blog=5674753&amp;post=62&amp;subd=rachmaona&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>In this world no one is in a same condition. I’m not you and you’re not me. In a brief statement all of us in this world is different, me and you has a different role.</em><br />
<em>But We are a God creature, and we dream about beautiful life base our capability. Entrepreneurship assist you to get that dream.</em><br />
Di dunia ini tidak seorang pun berada pada kondisi yang sama. Saya berbeda dengan anda dan anda berbeda dengan saya. Pikiran, perasaan, fisik, hingga DNA saya sangat berbeda dengan anda. Dalam kata yang singkat, kita semua berbeda dan memiliki masing-masing peran yang berbeda.<br />
Namun dibalik semua perbedaan tersebut terdapat satu kesamaan yang tidak dapat dihindari. Masing-masing dari kita bernaung dalam nama yang sama, kita adalah makhluk bernama manusia. Manusia yang memiliki kepentingan untuk hidup di bumi ini.<br />
Kemudian kepentingan yang seperti apa? Yaitu kepentingan untuk hidup secara layak, bahagia dan tentram baik secara jasmani maupun rohani, sesuai jati diri kita masing-masing.<br />
Enterpreneurship merupakan istilah yang tengah gencar-gencarnya didengungkan beberapa waktu terakhir. Setelah saya telusuri, rupanya enterpreneurship memiliki banyak pemaknaan dan telah diterapkan di berbagai bidang. Ada yang memaknai sebagai kemampuan melihat peluang dan resiko. Ada yang mengartikan sebagai keberanian dan keahlian untuk memulai bisnis. Ada juga yang memaknai sebagai kemampuan seseorang untuk bermanfaat secara sosial.<br />
Dalam buku The Spirit of Enterpreurship, karangan Nandram (Nyenrode Universiteit, Belanda) dan Samsom (worldwide lecturer in entrepreneurship), dijelaskan bahwa Richard Cantillon (1680-1734) adalah seorang ahli filsafat pertama yang menaruh perhatian besar terhadap istilah enterpreneurship. Cantillon melihat sebuah peran entrepreneur dalam sebuah masyarakat, dalam kata lain untuk membawa supply and demand ke dalam kondisi yang seimbang, dengan profit sebagai motifnya.<br />
Pemaknaan Cantillon tersebut kini telah mengalami perluasan. Seperti yang telah disebutkan di atas istilah entrepreneurship berkembang dan mengalami banyak pemaknaan serta penerapan di berbagai bidang. Bahkan entrepreneurship bukan lagi dikaitkan dengan ekonomi semata. Lebih dari itu enterpreneurship berhubungan dengan istilah yang lebih luas yaitu resiko, peluang, manfaat, dan semangat (passion).<br />
Lalu apa hubungannya dengan keberadaan manusia seperti yang telah disinggung di atas? Manusia yang memiliki peran berbeda, dapat menggunakan sarana enterpreneurship untuk mempertegas perannya sebagai manusia yang memiliki kehidupan di bumi ini. Enterpreneurship memudahkan manusia untuk mencapai tujuan kesejahteraan hidup, yaitu hidup dengan layak, bahagia, dan tentram seperti yang telah diimpikan setiap manusia.</p>
<p><em>Bagaimana caranya?</em><br />
<span id="more-62"></span><br />
Dalam entrepreneurship dikenal istilah-istilah seperti risk, attitude, mindset, success, commnunication, opportunity dan masih banyak istilah lain. Pemaknaannya dan penerapannya pun bermacam-macam.<br />
Namun dari beberapa literature yang ada secara tersirat disebutkan bahwa entrepreneurship adalah hal yang memungkinkan terjadinya multiplier effect. Artinya seorang entrepreneur yang menerapkan entrepreneurship mampu menciptakan dampak positif bagi dirinya dan sekitarnya. Hal tersebut tidak terbatas hanya pada kata memberikan lapangan pekerjaan, tetapi lebih menekankan tentang bagaimana seseorang bermanfaat dan berperan bagi lingkungannya. Maksudnya entrepreneurship tidak hanya berbicara tentang seorang businessman yang memulai sebuah bisnis, kemudian bisnis tersebut mendatangkan profit bagi dirinya dan membuka kesempatan kerja bagi orang lain. Lebih dari itu entrepreneurship membahas tentang bagaimana setiap orang mampu berperan dan bermanfaat sesuai dengan jati dirinya, sehingga mempunyai peran yang berarti bagi dirinya secara pribadi dan sekitarnya sebagai dampak positif.<br />
Yang dimaksud peran yang bermanfaat sesuai jati dirinya adalah sebagai berikut. Misalnya saja anda adalah orang yang senang dan ahli dalam bidang musik. Anda tidak suka dan tidak ahli dalam politik, akademis, dan sains. Anda hanya paham bahwa musik adalah hidup anda, dan anda senang serta ahli di bidang itu. Kemudian apakah anda lantas memaksakan diri anda terjun untuk menjadi seorang politikus, akademisi, dan saintis? Jika ya, berarti anda telah melakukan sebuah pemaksaan jati diri, jika tidak maka anda akan berpikir kembali&#8230;apakah musik mampu menopang kehidupan anda? Apakah musik akan bermanfaat bagi diri anda? Bukankah selama ini orang menganggap musik adalah hiburan semata dan tidak ada artinya?<br />
Kini istilah mindset atau cara berpikir (dalam bahasa Indonesia), dapat digunakan untuk membantu paparan berikut ini. Anggun adalah penyanyi wanita Indonesia yang sukses di benua Eropa, tepatnya Perancis. Sejak kecil Anggun diarahkan oleh ayahnya bahwa ia adalah gadis yang piawai bernyanyi. Tertanam kuat dalam pikiran Anggun, bahwa penyanyi adalah masa depannya. Cara berpikir Anggun tersebut membakar semangat Anggun untuk terus maju hingga dia berhasil meraih impian sebagai penyanyi tenar di Perancis. Bahkan mindset Anggun menjadikan Anggun tidak menyadari, bahwa selama ini ia telah dilatih oleh seorang pelatih yang suaranya bahkan tidak memenuhi standar baik sekalipun. Ia hanya paham bahwa sang pelatih yang tak lain adalah ayahnya sendiri selalu menyadarkan Anggun bahwa bernyanyi adalah keahlian Anggun, ia akan sukses melalui dunia tarik suara.<br />
Dari paparan di atas, mindset ayah Anggun adalah membentuk putrinya menjadi seorang seniman dalam seni tarik suara, karena ia tahu bahwa putrinya senang dan berbakat dalam hal tarik suara. Pada awalnya ia tidak berpikir tentang Eropa atau uang jutaan dolar yang akan didapat Anggun. Ayah Anggun hanya paham bahwa hidup Anggun akan bermanfaat bagi dirinya dan orang lain jika ia menekuni tarik suara. Kini hidup Anggun ditopang dari keahliannya bernyanyi dan orang lain merasa terhibur tatkala mendengar ia bernyanyi. Nah, bukankah menyanyi juga menciptakan manfaat bagi kehidupan di sekitar Anggun?<br />
Demikianlah yang dimaksud dengan entrepreneurship, yaitu menciptakan nilai dan dampak tidak hanya bagi dirinya tetapi juga bagi sekitarnya, melalui berbagai cara sesuai dengan jati dirinya masing-masing. Ada yang berperan sebagai politikus handal yang menciptakan kemanfaatan bagi kesejahteraan negara melalui keahlian berstrategi dan diplomasi. Ada guru yang membagi ilmunya untuk murid-murid yang masih lugu. Hingga ada pula yang berperan sebagai karyawan yang menciptakan kemajuan dan inovasi bagi kemajuan perusahaannya. Kesemua peran tersebut merupakan peran yang telah disesuaikan dengan jati diri masing-masing pribadi untuk memberi nilai (added value) bagi dirinya sendiri dan lingkungan sekitar. Entrepreneurship adalah salah satu hal yang membantu peran-peran itu bekerja dengan maksimal sehingga menghasilkan sesuatu yang optimal.<br />
<em>Pembelajaran entrepreneurship di Ma Chung </em><br />
Ma Chung sebagai universitas yang sadar akan isu terkini seputar pentingnya penerapan entrepreneurship, membuat suatu kurikulum khusus tentang pembelajaran entrepreneurship. Kurikulum tersebut dibuat berdasarkan fungsi dasar entrepreneurship yang telah disebutkan di atas, yaitu melahirkan entrepreneur-entrepreneur yang mampu menciptakan multiplier effect dan added value sesuai bidang keahlian dan jati diri masing-masing.<br />
Metode pembelajarannya dimulai dengan pengenalan terhadap mindset seorang entrepreneur, mempelajari tokoh-tokoh yang telah menerapkan entrepreneurship, idea generation, hingga pengadaan expo. Kesemua metode pembelajaran tersebut diajarkan mulai semester satu hingga semester enam. Tujuannya adalah agar mahasiswa mampu mengenali potensi mereka, sehingga setelah mereka terjun ke masyarakat mereka dapat berperan dan memberi manfaat sesuai keahlian dan jati dirinya.<br />
Dalam pembelajaran tersebut mahasiswa dikelompokkan dan setiap kelompok terdiri dari 10 sampai 11 orang. Setiap kelompok didampingi oleh mentor yang akan membimbing dan mengarahkan mereka dalam setiap kegiatannya.<br />
Topik kegiatan dibebaskan sesuai dengan keinginan dan kesepakatan kelompok. Kegiatannya tidak harus bisnis, tetapi lebih menekankan kepada manfaat apa yang akan didapat pribadi dan sekitarnya melalui kegiatan yang telah mereka laksanakan.<br />
Tim entrepreneurship telah menyiapkan manua pembelajaran dalam MLG. Setiap mahasiswa diharapkan membaca dan memahami setiap arahan yang diberikan.<br />
Namun kelemahannya karena mahasiswa dibentuk dalam kelompok, tidak semua keinginan mahasiswa dapat diterapkan. Misalnya salah seorang mahasiswa ada yang gemar dan tertarik dengan politik, tetapi ada yang sebaliknya. Ada yang cenderung menyukai bisnis dan sangat menghindari politik.<br />
Setiap mahasiswa dalam hal ini tidak dapat memaksakan keinginannya. Harus ada satu kegiatan yang mereka jalankan, walaupun salah satu atau beberapa tidak menyukai jenis kegiatan yang telah ditetapkan kelompok. Esensinya bukan terletak kepada jenis kegiatan yang dilaksanakan tetapi lebih kepada pemahaman mahasiswa tentang penerapan entrepreneurship dalam kehidupan mereka.<br />
Walau demikian, tidak menutup kemungkinan jika kelompok melaksanakan sebuah kegiatan dimana seluruh anggota dapat melaksanakan kegemaran dan bakat masing-masing.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rachmaona.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rachmaona.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rachmaona.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rachmaona.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rachmaona.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rachmaona.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rachmaona.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rachmaona.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rachmaona.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rachmaona.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rachmaona.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rachmaona.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rachmaona.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rachmaona.wordpress.com/62/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rachmaona.wordpress.com&amp;blog=5674753&amp;post=62&amp;subd=rachmaona&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rachmaona.wordpress.com/2009/03/14/entrepreneurship-sebagai-sarana-optimalisasi-jati-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c3eac77292bc41b851e6be752fa50d4c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rachmaona</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tanduk Majeng Presented in Bangkok</title>
		<link>http://rachmaona.wordpress.com/2009/03/12/tanduk-majeng-presented-in-bangkok/</link>
		<comments>http://rachmaona.wordpress.com/2009/03/12/tanduk-majeng-presented-in-bangkok/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Mar 2009 06:00:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rachmaona</dc:creator>
				<category><![CDATA[ekonomi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rachmaona.wordpress.com/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[Namanya tidak terlalu sulit untuk diingat. Bu Tini&#8230;. Wanita satu ini juga sulit untuk dilupakan walaupun hanya sekali saja anda bertemu dengannya. Logat Madura dan guyonan  segar yang ia tawarkan dijamin membuat anda ketagihan untuk  bertemu dengannya. Terhibur? Pastinya&#8230;&#8230; Tapi bukan sifat Bu Tini yang pandai ber-guyon ria yang ingin saya paparkan dalam tulisan ini, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rachmaona.wordpress.com&amp;blog=5674753&amp;post=54&amp;subd=rachmaona&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Namanya tidak terlalu sulit untuk diingat. Bu Tini&#8230;.</p>
<p>Wanita satu ini juga sulit untuk dilupakan walaupun hanya sekali saja anda bertemu dengannya. Logat Madura dan guyonan  segar yang ia tawarkan dijamin membuat anda ketagihan untuk  bertemu dengannya. Terhibur? Pastinya&#8230;&#8230;  Tapi bukan sifat Bu Tini yang pandai ber-<em>guyon ria </em> yang ingin saya paparkan dalam tulisan ini, tetapi lebih kepada karakter bisnis dan social entrepreneur yang dimiliki oleh Bu Tini.</p>
<p>&#8220;Nama saya Bu Tini <em>mbak</em><em>&#8230;</em>&#8220;, begitulah cara beliau memperkenalkan diri kepada saya.</p>
<p>Bu Tini berdarah Madura, usianya kurang lebih 40 tahun ke atas dan menamatkan pendidikan terakhirnya di bangku SMA kota Situbondo.   Ia seorang wiraswasta di bidang pengolahan makanan dari kota Situbanda. Kripik gayam menjadi produk andalan beliau.</p>
<p>Kini Bu Tini telah tergabung dalam sebuah organisasi bernama HWPRI (Himpunan Wanita Pekerja Rumahan Indonesia).  HWPRI yang didirikan sejak tahun 1995 menampung para wanita yang mempunyai kegiatan perekonomian di rumahnya. Bu Tini yang tertarik karena merasa mempunyai latar belakang wanita pekerja rumahan tersebut merasa perlu bergabung dengan HWPRI, dan saat ini Bu Tini menjabat sebagai ketua HWPRI nasional.</p>
<p>Ketika saya berdialog langsung dengan Bu Tini, Bu Tini menceritakan suka dukanya dalam menjalankan kewajibannya di HWPRI. HWPRI selain menjadi wadah untuk mengembangkan kegiatan perekonomian anggotanya, juga sangat peduli dengan pemberdayaan wanita pekerja rumahan yang pendapatannya sangat minim. Terutama wanita pekerja rumahan yang bekerja sebagai tenaga lepas. Tenaga lepas adalah para wanita yang mengambil <em>garapan</em> dari rumah majikannya dan mengerjakannya di rumah atau oleh majikannya disediakan tempat khusus untuk mengerjakan pekerjaan mereka. Bu Tini dan kawan-kawannya di HWPRI membantu para wanita tersebut melalui kegiatan-kegiatan bakti sosial, pelatihan dan pembinaan.</p>
<p>Yang menarik adalah pengalaman BU Tini sebagai perwakilan HWPRI Indonesia yang harus presentasi di Bangkok Thailand dalam acara yang diselenggarakan oleh OXfam.</p>
<p>&#8220;Saya waktu itu presentasi di Bangkok. Itu pengalaman pertama saya pergi naik pesawat dan ke luar negeri. di sana saya harus presentasi di depan perwakilan negara-negara di ASEAN. Pake bahasa Inggris lagi. jadi setelah saya buat draft materi yang harus saya sampaikan, saya meminta bantuan teman saya yang fasih bahasa inggris untuk mentranslate-nya. Tapi jangan tanya waktu saya harus menjawab pertanyaan. Teman saya yang akhirnya <em>saya gandeng </em>ke depan&#8230;.Hehehe&#8230;..&#8221;, katanya sambil tertawa.</p>
<p>Mendengar pengalamannya yang satu itu satu hal yang saya katakan pada beliau&#8230;..</p>
<p>WAH&#8230;..salut bu&#8230;.semangat.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rachmaona.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rachmaona.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rachmaona.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rachmaona.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rachmaona.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rachmaona.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rachmaona.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rachmaona.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rachmaona.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rachmaona.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rachmaona.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rachmaona.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rachmaona.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rachmaona.wordpress.com/54/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rachmaona.wordpress.com&amp;blog=5674753&amp;post=54&amp;subd=rachmaona&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rachmaona.wordpress.com/2009/03/12/tanduk-majeng-presented-in-bangkok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c3eac77292bc41b851e6be752fa50d4c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rachmaona</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perbudakan Bangsa dan Bahasa</title>
		<link>http://rachmaona.wordpress.com/2009/02/27/perbudakan-bangsa-dan-bahasa/</link>
		<comments>http://rachmaona.wordpress.com/2009/02/27/perbudakan-bangsa-dan-bahasa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Feb 2009 12:09:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rachmaona</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rachmaona.wordpress.com/?p=50</guid>
		<description><![CDATA[Ada satu kejadian lucu beberapa yang  waktu lalu&#8230;. salah seorang rekan yang tengah mempresentasikan cara penjualan produknya, berkata demikian&#8230; &#8220;I  promote my product mouth to mouth&#8230;..&#8221; Sontak saja, mentor manajemen yng bertugasa saat itu langsung turun tangan. Setelah rekan saya menyelesaikan presentasinya, beliau menjelaskan bahwa  promosi penjualan secara mulut ke mulut jika ditranslate ke dalam bahasa Inggris akan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rachmaona.wordpress.com&amp;blog=5674753&amp;post=50&amp;subd=rachmaona&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada satu kejadian lucu beberapa yang  waktu lalu&#8230;.</p>
<p>salah seorang rekan yang tengah mempresentasikan cara penjualan produknya, berkata demikian&#8230;</p>
<p>&#8220;<em>I  promote my product mouth to mouth&#8230;..&#8221;</em></p>
<p>Sontak saja, mentor manajemen yng bertugasa saat itu langsung turun tangan. Setelah rekan saya menyelesaikan presentasinya, beliau menjelaskan bahwa  promosi penjualan secara mulut ke mulut jika ditranslate ke dalam bahasa Inggris akan menjadi &#8220;<em>word of mouth&#8221;</em> dan bukan &#8220;<em>mouth to mouth&#8221;</em> . Walaupun dalam ranah bahasa Indonesia benar, tetapi menjadi tidak benar jika dialihkan ke bahasa Inggris, sebab kesan yang ditimbulkan akan menjadi kurang sopan.</p>
<p>Bahasa adalah  salah satu alat komunikasi verbal yang berfungsi menerjemahkan pesan dan informasi dari peng-<em>encode </em>(narasumber).  Secara sederhana kesuksesan penyampaian pesan melalui bahasa adalah&#8230;.saat si penerima pesan mengerti isi pesan yang disampaikan oleh si pengirim.</p>
<p>Begitu sakralnya bahasa dalam komunikasi menjadikan pentingnya penguasaan bahasa asing. Tak hanya itu, bahkan kemampuan bahasa juga dijadikan tolok ukur kapabilitas seseorang. Mau bukti&#8230;..Coba sekali-kali perhatikan kolom lowongan kerja di koran. Bahasa Inggris dan Mandarin adalah syarat kunci diterimanya seseorang dalam proses <em>recruitment</em>.</p>
<p>Mengapa demikian????</p>
<p>Ilmu pengetahuan dan informasi yang menjadi aset dunia global saat ini, sebagian besar beredar dalam versi Inggris. Semua itu berawal dari penguasaan informasi dan pengetahuan oleh barat, yang mengakibatkan mereka unggul dalam berbagai bidang. </p>
<p>Saya sering mendengar teman-teman berkata demikian&#8230;</p>
<p>Emang dasarnya Indonesia aja yang ga jelas&#8230;.pemerintahnya ga beres banyak KKN&#8230;dan umpatan-umpatan lainnya.</p>
<p>Memang kenyataannya Indonesia itu bak tikus mati dalam lumbung padi&#8230;.Namun walau dicerca habis-habisan, saya tetap dan sangat yakin bahwa sebenarnya SDM Indonesia itu unggul, walaupun kini dalam kondisi yang amat sangat terpuruk, hingga para TKI di Indonesia sering diperlakukan kurang baik di luar negeri.</p>
<p>Bukan SDM nya yang kurang pinter,  sebab belum ada satu penelitian pun yang mengatakan bahwa IQ orang Indonesia itu rendah. Buktinya Yohanes Surya berhasil mengantar Putra Indonesia meraih kursi kehormatan di Olimpiade Sains Fisika.</p>
<p>Akses terhadap Informasi dan pengetahuan lebih menjadi alasan kuat dalam kasus rendahnya SDM Indonesia.  SDM Indonesia itu mengalami kelangkaan informasi. Bayangkan bagaimana bisa unggul kalau pencarian informasi bak mencari air di padang pasir. Mau bukti lagi&#8230;.</p>
<p>Kemarin saya mendapat tugas untuk menganalisis peluang bisnis dalam perekonomian Indonesia Global. Saya sangat terhenyak  sat mentor saya memberi sejumlah bahan berbentuk e-book yang semuanya dikemas dalam versi Inggris. Ketika saya membacanya, ternyata sangat sesuai dengan dugaan saya. Isinya sangat lengkap dan detail. Namun bahasanya terlalu tinggi hingga saya berkali-kali membuka kamus untuk memahami ide pokok yang disampaikan.</p>
<p>Sekarang mari kita refleksikan&#8230;Bukankah pengembangan kapasitas berawal dari analisa kelemahan dan kelebihan diri sendiri. Lalu, Kapan kita maju kalau untuk mengenali potensi diri sendiri harus buka catatan tetangga? Inilah yang akhirnya saya namakan Perbudakan Bangsa dan Bahasa.  Mau seratus kali enterepreneur didengungkan, kalau untuk melakukan brainstorming saja harus terhalang oleh bahasa bagaimana bisa menganalisis&#8230;.</p>
<p>Kini tercetus suatu ide baru, mungkin sebaiknya saya harus mengkaji ilmu bahasa tentang pemaknaan kata asing. Jadi tidak perlu lagi terjadi Assymetri Information&#8230;</p>
<p>duh mahalnya Informasi&#8230;..</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rachmaona.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rachmaona.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rachmaona.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rachmaona.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rachmaona.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rachmaona.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rachmaona.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rachmaona.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rachmaona.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rachmaona.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rachmaona.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rachmaona.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rachmaona.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rachmaona.wordpress.com/50/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rachmaona.wordpress.com&amp;blog=5674753&amp;post=50&amp;subd=rachmaona&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rachmaona.wordpress.com/2009/02/27/perbudakan-bangsa-dan-bahasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c3eac77292bc41b851e6be752fa50d4c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rachmaona</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Paradigma Komoditas ke Paradigma Hidup</title>
		<link>http://rachmaona.wordpress.com/2009/02/16/paradigma-komoditas-ke-paradigma-hidup/</link>
		<comments>http://rachmaona.wordpress.com/2009/02/16/paradigma-komoditas-ke-paradigma-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Feb 2009 01:10:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rachmaona</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rachmaona.wordpress.com/2009/02/16/paradigma-komoditas-ke-paradigma-hidup/</guid>
		<description><![CDATA[Pertanian secara luas melingkupi perikanan, pertanian pangan, kehutanan, dan peternakan. Sebagai tolak ukur ketahanan pangan suatu negara pertanian mampu mencerminkan standar hidup dari sebuah negara agraris seperti Indonesia. Sebagai comparative advantage Indonesia pertanian selama ini hanya dipandang melalui sisi pencapaian produktivitas atau keberhasilan swasembada pangan, dan belum menyentuh aspek keberlanjutan pertanian. Selama beberapa dekade yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rachmaona.wordpress.com&amp;blog=5674753&amp;post=48&amp;subd=rachmaona&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pertanian secara luas melingkupi perikanan, pertanian pangan, kehutanan, dan peternakan. Sebagai tolak ukur ketahanan pangan suatu negara pertanian mampu mencerminkan standar hidup dari sebuah negara agraris seperti Indonesia.<br />
Sebagai comparative advantage Indonesia pertanian selama ini hanya dipandang melalui sisi pencapaian produktivitas atau keberhasilan swasembada pangan, dan belum menyentuh aspek keberlanjutan pertanian. Selama beberapa dekade yang lalu, pertanian dipandang dari segi liberal dan tradisional. Pertanian diposisikan sebagai komoditas dan penyedia bahan baku industry yang harus diproduksi dalam jumlah banyak guna menghasilkan keuntungan yang maksimal.<br />
Dalam pandangan kapitalis-liberalis –murni, sektor pertanian dipandang sebagai komoditas yang tunduk pada hukum permintaan, penawaran, harga, dan keuntungan (Krisnamurthi, 2006). Pandangan seperti ini menempatkan produk pertanian sebagai produk yang murah, sehingga petani hanya mampu bertindak sebagai price taker. Harga akan diatur oleh besarnya permintaan dan penawaran, artinya naik turunnya harga dikendalikan oleh jumlah komoditas pertanian yang tersedia di pasar dan permintaan konsumen pertanian terhadap komoditas tersebut. Sebagai contoh, petani bawang putih suatu saat akan mengalami kerugian akibat merosotnya harga yang disebabkan oleh melimpahnya komoditas bawang putih di pasar, sedangkan jumlah pembeli untuk komoditas bawang putih tetap.<br />
Sedangkan menurut pandangan tradisional, peran pertanian hanya dilihat sebagai penyedia bahan baku, penyedia pasar, penyedia surplus modal, dan penyedia devisa (Kuznet, 1964). Pandangan tersebut mengakibatkan pertanian hanya ditempatkan dalam posisi untuk melayani kebutuhan industri bukan sebagai partnership. Padahal hubungan industri dan pertanian bersifat saling terkait dan saling tergantung (Krisnamurthi, 2006).  Keberlangsungan industri tergantung pada ketersediaan bahan baku, dan keberlanjutan produksi bahan baku bergantung pada keberlangsungan proses produksi yang dilakukan oleh industri.<br />
Kedua pandangan di  atas melahirkan berbagai kebijakan yang berporos pada pencapaian swasembada pangan. Swasembada pangan yang dijadikan topic dalam politik pertanian pada era orde baru, merupakan ukuran keberhasilan sektor pertanian.<br />
Sejak awal 1970-an pemerintahan orde baru menerapkan paket kebijakan teknologi dan kelembagaan yang akhirnya berhasil mengubah Indonesia dari negara pengimpor beras menjadi negara berswasembada beras pada tahun 1980-an. Namun keberhasilan yang dikemas dalam kebijakan revolusi hijau tersebut, rupanya hanya bersifat sementara dan memakan biaya yang sangat besar (Krisnamurthi, 2006). Biaya yang harus dibayar oleh program revolusi hijau ini adalah hilangnya institusi lokal, musnahnya keanekaragaman sumber daya hayati, menurunnya kualitas tanah, serta menurunnya kualitas lingkungan secara keseluruhan. Biaya terberat lain yang harus ditanggung adalah gagalnya peningkatan kesejahteraan dan keberdayaan petani walaupun produktivitas yang dicapai mencapai pada tahap swasembada. Sektor pertanian saat ini bahkan semakin tidak mandiri karena sudah sangat tergantung pada industri pertanian raksasa seperti industry benih, pupuk, pestisida, hingga mesin-mesin pertanian yang kesemua proyeknya dibiayai oleh utang dan inputnya didatangkan dari luar negeri (Irham, 2006).<br />
Setelah era revolusi hijau dan krisis moneter 1997, pada tahun 2004 pemerintah kembali berhasil mencapai swasembada beras. Namun di lain hal permasalahan kesejahteraan petani, dan keberlanjutan pertanian tetap menjadi masalah utama yang melemahkan keberhasilan swasembada beras tersebut. Sensus penduduk pada tahun 2003, menunjukkan bahwa sejak tahun 1993 jumlah petani Indonesia mengalami peningkatan dari 20,8 juta menjadi 25,4 juta rumah tangga, atau dengan laju petumbuhan rata-rata sebesar 2,2 persen. Dari pertambahan tersebut jumlah petani “gurem”, -petani dengan luas lahan kurang dari 0,5 hektar-, bertambah dari 10,8 juta atau 52,7 persen dari jumlah total rumah tangga petani, menjadi 13,7 juta pada tahun 2003 atau sekitar 56,5 persen (Krisnamurthi, 2006). Artinya telah terjadi kesenjangan antara ketersediaan lahan pertanian dengan jumlah pekerja yang bekerja dalam sektor pertanian. Jumlah lahan yang tersedia semakin sempit sedangkan julah pekerja yang ditampung pertanian semakin meningkat, inilah yang menjadikan kesejahteraan petani terpuruk, sebab petani hanya mampu menggarap lahan dengan luas yang sempit.<br />
Pemenuhan kebutuhan pangan manusia ditunjang melalui serangkaian kegiatan dalam pertanian, sehingga kualitas pertanian mampu menggambarkan secara langsung kualitas hidup masyarakat sebagai konsumen produk pertanian. Kesehatan, kesejahteraan, kondisi lingkungan, dan keberdayaan adalah beberapa indikator yang dapat digambarkan melalui pertanian. Kualitas hidup tinggi yang dimiliki negara-negara maju merupakan cerminan tingginya kualitas pertanian yang mereka kembangkan.<br />
Kompleksnya indikator kualitas hidup yang tergambar dalam kualitas pertanian memposisikan pertanian sebagai the way of life. The way of life tersebut harus dipelihara secara berkelanjutan, sebab selama manusia hidup pertanian tetap menjadi sektor yang berkaitan langsung dengan pangan, kesehatan dan kesejahteraan. Pentingnya pembangunan pertanian berkelanjutan melemahkan pandangan bahwa pertanian hanya dipandang sebagai komoditas dan penyedia bahan baku industri.<br />
Sadar akan pentingnya perubahan pandangan terhadap pertanian, maka pada tanggal 11 September 2005, dicanangkanlah program revitalisasi pertanian. Tujuan utama revitalisasi pertanian adalah menempatkan kembali arti penting sektor pertanian secara proporsional dan konstektual dalam rangka menyegarkan kembali vitalitas, memberdayakan kemampuan dan meningkatkan kinerja pertanian untuk mendukung pembangunan nasional dengan tidak mengabaikan sektor lain.<br />
Penempatan  secara proporsional dan vital tersebut digapai melalui serangkaian rencana perubahan paradigma. Revitalisasi pertanian memandang perlunya perubahan paradigma berpikir masyarakat terhadap sektor pertanian. Perubahan paradigma tersebut dicapai melalui penanaman cara pandang sebagai berikut:<br />
-	sebagai penghasil bahan pangan dan bahan baku industri<br />
-	pembangunan daerah dan pedesaan<br />
-	penyangga dalam krisis<br />
-	penghubung sosial ekonomi masyarakat dari berbagai daerah<br />
-	kelestarian sumber daya lingkungan<br />
-	pembangun sosial budaya masyarakat<br />
-	kesempatan kerja, devisa, dan PDB<br />
Perubahan paradigma memang sangat dibutuhkan untuk mengubah mindset masyarakat. Rancangan revitalisasi pertanian yang telah dicanangkan pun telah sedemikian baiknya disusun. Pelaksanaan untuk mengubah paradigma akankah sudah siap? Tergantung pada kesediaan insan bangsa ini untuk berpikir dalam jangka panjang da serius dalam mengeksekusi rancangan yang telah ada……. </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rachmaona.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rachmaona.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rachmaona.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rachmaona.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rachmaona.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rachmaona.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rachmaona.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rachmaona.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rachmaona.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rachmaona.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rachmaona.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rachmaona.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rachmaona.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rachmaona.wordpress.com/48/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rachmaona.wordpress.com&amp;blog=5674753&amp;post=48&amp;subd=rachmaona&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rachmaona.wordpress.com/2009/02/16/paradigma-komoditas-ke-paradigma-hidup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c3eac77292bc41b851e6be752fa50d4c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rachmaona</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bekerja adalah Karsa, Karya dan Ibadah</title>
		<link>http://rachmaona.wordpress.com/2009/01/09/bekerja-adalah-karsa-karya-dan-ibadah/</link>
		<comments>http://rachmaona.wordpress.com/2009/01/09/bekerja-adalah-karsa-karya-dan-ibadah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Jan 2009 04:21:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rachmaona</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>
		<category><![CDATA[education]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rachmaona.wordpress.com/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[7 desember 2008 7:15pm Bekerja adalah ibadah, karsa, dan karya bukan karena terpaksa (Nira Surya). Kata-kata itu didengungkan oleh seorang guru bijak saya bernama Nira Surya. Beliau telah mengabdi di SMA Negeri 5 Balikpapan, yang notabene adalah sekolah saya sendiri , selama kurang lebih lima belas tahun. Kata-kata mutiara di atas dilontarkan Bu Nira Surya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rachmaona.wordpress.com&amp;blog=5674753&amp;post=39&amp;subd=rachmaona&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<ul>
<li>7 desember 2008<br />
7:15pm<br />
Bekerja adalah ibadah, karsa, dan karya bukan karena terpaksa (Nira Surya). Kata-kata itu didengungkan oleh seorang guru bijak saya bernama Nira Surya. Beliau telah mengabdi di SMA Negeri 5 Balikpapan, yang notabene adalah sekolah saya sendiri , selama kurang lebih lima belas tahun.<br />
Kata-kata mutiara di atas dilontarkan Bu Nira Surya dalam rangka menanggapi cerita saya. Cerita tersebut menyangkut minimnya sikap profesional pada salah seorang guru di SMA Negeri 5 Balikpapan.<br />
Berikut adalah cerita yang saya paparkan ke guru saya,<br />
Pagi itu setelah limabelas menit guru KP (kurang profesional) duduk di bangku keramat ruang kelas, ia memberi teladan sesat kepada anak muridnya.<br />
&#8220;Udah ya saya pergi dulu, ingat jangan bilang-bilang kalau saya perginya sebelum bel bunyi. Kalau ditanya bilang saja saya ke kamar mandi, saya ada urusan bisnis, penting. Nanti ujiannya gampang tenang aja kok nggak usah dipikir&#8230;&#8221;<br />
Di lain hari, ketika saya mengadakan acara perpisahan kelas, guru KP tersebut rupanya hadir. Di depan saya dan beberapa orangteman saya dia memberikan petuah yang sangat tidak masuk akal dilontarkan oleh seorang guru perempuan,<br />
&#8220;lho menurut saya merokok itu nggak apa-apa,,,,,,toh saya juga perokok, bu itu tuh&#8230;.malah perokok berat&#8230;.nggak masalah lah.&#8221;<br />
<span id="more-39"></span><br />
Setelah mendengar cerita saya, Bu Nira tersenyum. Bu nira berkata bahwa di dunia ini banyak sekali orang yang seperti itu. Tidak hanya guru, tetapi semua kalangan, bisa jadi pengusaha, konglomerat, dokter, menteri, bahkan petani atau buruh sekalipun. Semua itu diakibatkan karena kecondongan mereka hanyalah pada satu hal yaitu materi. Dimana pekerjaan untuk nafkah, nafkah itu uang, dan orang butuh uang untuk hidup.<br />
Memang tidak dapat dinafikan bahwa segalanya butuh uang. Namun yang berbeda adalah cara menyikapi uang. Menurut Bu Nira sikap manusia terhadap uang dapat dibagi menjadi dua. Pertama, sikap &#8220;Budak uang&#8221; dan yang kedua adalah &#8220;Pengatur uang&#8221;.<br />
Jika seseorang mempunyai sikap yang pertama maka dapat dipastikan bahwa<br />
 orang tersebut akan sangat mudah mencari uang,<br />
 cepat kaya raya,<br />
 segalanya dihubungkan dengan bagaimana mendapatkan keuntungan<br />
 punya banyak uang<br />
 dan bahkan sanggup jungkir balik demi uang (maksudnya menghalalkan segala cara untuk uang)</p>
<p>Jika seseorang mempunyai sikap yang kedua maka merupakan kebalikan dari sikap yang pertama,<br />
 orang tersebut akan sedikit susah mencari uang (karena pilih-pilih pekerjaan),<br />
 lama kaya raya,<br />
 tidak selamanya mendaptkan keuntungan kadang kerugian<br />
 tidak rela menukar kebaikan dan kebenaran dengan uang akibatnya ya sering mengalami kerugian dan pencekalan</p>
<p>Seorang budak uang akan lebih cepat kaya raya dibandingkan pengatur uang. Sebab mereka berprinsip pada kecepatan bukan ketepatan (sumbangan kata dari Soe Hok Gie). Yang penting asal cepat, urusan tidak tepat belakangan. Akibatnya adalah seperti guru KP di atas. Yang penting urusan bisnis dulu, sebab bisnis lebih menjanjikan dari gaji seorang guru. Profesi guru mungkin hanya dijadikan perlindungan tatkala bisnisnya tengah macet. Namun ia tidak berpikir bahwa sikapnya tersebut bisa jadi ditiru oleh anak muridnya. Selain itu para muridnya tentu saja akan kehilangan kesempatan untuk menimba ilmu karena ia tinggalkan begitu saja.<br />
Kemudian guru saya mengakhiri penjelasannya demikian,<br />
&#8220;Kalau ibu, ketika ibu menemukan bahwa kemungkinan ibu memang digariskan Tuhan untuk menjadi seorang guru, ya ibu laksanakan dengan sepenuh hati. Ibu bisa saja &#8216;nyambi&#8217;, tetapi apakah itu nantinya tidak mengganggu. Kalau dipikir secara logika orang pasti sepakat bahwa gaji seorang guru itu tidak sebanyak pendapatan pengusaha. Namun tatkala kita telah menemukan jati diri kita yang sebenarnya maka hal tersebut akan lain ceritanya. Jati diri saya adalah seorang guru, sehingga saya harus sepenuh hati menjadi seorang guru. Saya harus profesional, mengajar dengan penuh keikhlasan, agar pekerjaan saya dapat pahala. Sebab sebuah pekerjaan adalah karya, karsa, dan ibadah bukan karena terpaksa. Jadi kita akan melaksanakannya dengan senang dan amat sangat bahagia tatkala kita dapat berbuat lebih untuk pekerjaan kita. Uang kemudian tidak menjadi persoalan. Toh akhirnya saya tetap cukup makan, masih sanggup membiayai kehidupan keluarga dan orang lain. Dan saya masih mendapatkan segala keperluan hidup saya dengan cukup. Ya walaupun tidak mewah, tapi cukup. Karena saya yakin karya yang baik menghasilkan hal yang baik pula.&#8221;<br />
Seorang bijak mengatakan kepada saya bahwa rasa senang adalah ekspresi dari kemerdekaan jiwa. Kemerdekaan adalah hakikat hidup manusia. Sehingga dapat saya simpulkan bahwa sebelum bekerja kita harus menemukan 3 hal,<br />
1. siapa jati diri kita sebenarnya,<br />
2. apa tujuan hidup kita,<br />
3. mau seperti apa hidup kita.<br />
Ketiga hal di atas amatlah penting bagi hidup kita selanjutnya, sebab tanpa kita mengetahui siapa jati diri kita, kita tak akan pernah paham mengapa kita harus ada dan turut berperan serta dalam kehidupan di dunia ini. Tanpa mengetahui arah tujuan kita, kita akan menjadi kutu loncat, terus berkutat pada trial and error. Maksudnya semua hal dicoba dan tak ada yang berbekas dalam diri kita, kecuali rasa bangga yang hampa. Kemudian yang ketiga, tanpa kita tahu &#8220;mau seperti apa hidup kita&#8221;, kita akan terus disibukkan oleh pencapaian orang lain (hingga mudah diatur oleh keinginan orang lain), tanpa ada perhatian khusus untuk melihat keistimewaan yang ada dalam diri kita dan mengolahnya sesuai keinginan kita.<br />
Yang terakhir adalah sedikit buah pikiran dari beberapa orang:<br />
1. Bekerjalah untuk memberdayakan dirimu (Daniel Sugama), bukan untuk menyajikan dirimu pada kehidupan yang konon katanya kejam.<br />
2. Buah karyamu tidak hanya mengantarkanmu kepada sukses tetapi juga kemerdekaan.<br />
3. Pekerjaan adalah karsa, karya dan ibadah, bukan keterpaksaan (Nira Surya)<br />
4. Salah satu cara berterimakasih kepada Tuhan adalah dengan mencintai dan melahirkan dirimu apa adanya, sesuai dengan kebenaran dan kebaikan yang telah diberikan oleh Tuhan.<br />
5. Orisinalitas adalah jati diri, Pengisi kehampaan adalah tujuan, dan Pemacu semangat adalah keinginan.<br />
Nah, itulah sekelumit pikiran yang mungkin penuh dengan kekurangan. Namun besar harapan saya jika sekelumit pikiran tersebut berguna minimal bagi hidup saya. Dan hal di atas bukan hanya menyangkut pekerjaan atau profesi, tetapi juga menyangkut segala bentuk aktivitas manusia yang lain, baik dalam menimba ilmu, membina rumah tangga, sosial, dan lain-lain..<br />
So &#8230;&#8230;&#8230;<br />
Selamat berkarya!!!!!!!!!!!!!<br />
Give your contribution by your high education !!!!!!!!!!!!!!!!!!!<br />
Wallahu alam bis shawab (artinya: hanya Allah (Tuhan) yang Maha Tahu segala Ilmu)</li>
</ul>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rachmaona.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rachmaona.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rachmaona.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rachmaona.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rachmaona.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rachmaona.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rachmaona.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rachmaona.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rachmaona.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rachmaona.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rachmaona.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rachmaona.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rachmaona.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rachmaona.wordpress.com/39/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rachmaona.wordpress.com&amp;blog=5674753&amp;post=39&amp;subd=rachmaona&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rachmaona.wordpress.com/2009/01/09/bekerja-adalah-karsa-karya-dan-ibadah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c3eac77292bc41b851e6be752fa50d4c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rachmaona</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>doaku kepada-Mu Tuhan</title>
		<link>http://rachmaona.wordpress.com/2008/12/28/doaku-kepada-mu-tuhan/</link>
		<comments>http://rachmaona.wordpress.com/2008/12/28/doaku-kepada-mu-tuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Dec 2008 10:02:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rachmaona</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rachmaona.wordpress.com/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[Tuhan&#8230;.. tolong jangan kau cabut rasa rinduku pada-Mu, jangan kau cabut rasa terima kasihku pada-MU jangan pula kau buat aku lupa akan segala materi di dunia kuatkan imanku, bimbinglah aku agar caraku berterima kasih kepada-Mu menjadi lebih sempurna jadikan aku semakin mencintai-Mu melalui ilmu melalui apa yang aku baca di sekitarku di alamku<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rachmaona.wordpress.com&amp;blog=5674753&amp;post=28&amp;subd=rachmaona&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tuhan&#8230;..<br />
tolong jangan kau cabut rasa rinduku pada-Mu,<br />
jangan kau cabut rasa terima kasihku pada-MU<br />
jangan pula kau buat aku lupa akan segala materi di dunia<br />
kuatkan imanku,<br />
bimbinglah aku agar caraku berterima kasih kepada-Mu menjadi lebih sempurna<br />
jadikan aku semakin mencintai-Mu<br />
melalui ilmu<br />
melalui apa yang aku baca di sekitarku di alamku       </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rachmaona.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rachmaona.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rachmaona.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rachmaona.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rachmaona.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rachmaona.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rachmaona.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rachmaona.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rachmaona.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rachmaona.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rachmaona.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rachmaona.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rachmaona.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rachmaona.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rachmaona.wordpress.com&amp;blog=5674753&amp;post=28&amp;subd=rachmaona&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rachmaona.wordpress.com/2008/12/28/doaku-kepada-mu-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c3eac77292bc41b851e6be752fa50d4c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rachmaona</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ilmu dan KeTuhanan bagai Dua Sisi Mata Uang</title>
		<link>http://rachmaona.wordpress.com/2008/12/28/ilmu-dan-ketuhanan-bagai-dua-sisi-mata-uang/</link>
		<comments>http://rachmaona.wordpress.com/2008/12/28/ilmu-dan-ketuhanan-bagai-dua-sisi-mata-uang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Dec 2008 09:03:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rachmaona</dc:creator>
				<category><![CDATA[education]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rachmaona.wordpress.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Kazuo Murakami, seorang pakar genetika terkemuka di dunia, dalam bukunya yang berjudul The Divine Massage of DNA. Menerangkan bahwa ujung dari segala penelitian yang telah ia lakukan adalah rasa kekagumannya yang mendalam pada sebuah titik, yang ia sebut sebagai &#8220;Sang Agung&#8221;. Dalam setiap penelitiannya ia selalu menemuka bahwa gen mempunyai sistem kerja yang luar biasa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rachmaona.wordpress.com&amp;blog=5674753&amp;post=21&amp;subd=rachmaona&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
<a href='http://rachmaona.wordpress.com/2008/12/28/ilmu-dan-ketuhanan-bagai-dua-sisi-mata-uang/dna-1/' title='dna-1'><img data-attachment-id='22' data-orig-size='137,137' data-liked='0'width="137" height="137" src="http://rachmaona.files.wordpress.com/2008/12/dna-1.jpg?w=137&#038;h=137" class="attachment-thumbnail" alt="dna-1" title="dna-1" /></a>
<a href='http://rachmaona.wordpress.com/2008/12/28/ilmu-dan-ketuhanan-bagai-dua-sisi-mata-uang/dna/' title='dna'><img data-attachment-id='23' data-orig-size='150,113' data-liked='0'width="150" height="113" src="http://rachmaona.files.wordpress.com/2008/12/dna.jpg?w=150&#038;h=113" class="attachment-thumbnail" alt="dna" title="dna" /></a>
Kazuo Murakami, seorang pakar genetika terkemuka di dunia, dalam bukunya yang berjudul The Divine Massage of DNA. Menerangkan bahwa ujung dari segala penelitian yang telah  ia lakukan adalah rasa kekagumannya yang mendalam pada sebuah titik, yang ia sebut sebagai &#8220;Sang Agung&#8221;.<br />
Dalam setiap penelitiannya ia selalu menemuka bahwa gen mempunyai sistem kerja yang luar biasa dan tidak mungkin tercipta dari sesuatu yang biasa. Susunan dan kerja gen yang luar biasa pasti berasal dari suatu hal yang luar biasa pula. Murakami menyebut sesuatu yang luar biasa tersebut sebagai &#8221; Sang Agung&#8221;. </p>
<p><span id="more-21"></span></p>
<p>Ia menyimpulkan bahwa sesungguhnya manusia selama ini hanyalah menggali apa yang sebenarnya telah sejak lama ada dan tercipta oleh kehendak Sang Agung. Sekalipun manusia dapat melakukan kloning dan rekayasa genetika, sesungguhnya manusia selama itu hanyalah menggali apa yang sudah terjadi. Mencoba mengkombinasikan gen-gen yang ada sehingga muncullah sesuatu yang lebih menarik.</p>
<p>Saat Murakami mencoba untuk semakin menggali rahasia gen, ia semakin sadar bahwa sesungguhnya pengetahuan yang ia miliki amatlah minim. Ia sadar bahwa semakin ia menggali maka semakin ia menemukan hal-hal baru di luar batas pikiran dan kapasitas manusia. Artinya ia semakin sadar akan keberadaan &#8220;Sang Agung&#8221; yang telah menciptakan gen sedemikian rupa sejak berjuta-juta tahun yang lalu dengan bentuk, susunan, dan cara kerja yang amat unik. Sehingga kesadaran tersebut akan membawa manusia mengakui bahwa segala daya upanya dalam pengetahuan tak akan pernah sebanding dengan apa yang telah didesign oleh &#8220;Sang Agung&#8221;.</p>
<p>Tuhan&#8230;..<br />
GOD&#8230;&#8230;.<br />
Allah&#8230;&#8230;..<br />
adalah bahasa universal yang pasti dikenal oleh seluruh manusia di alam ini. Ia dekat bahkan lebih dekat dari urat nadi kita. Ia ada dan telah menhadiahkan kehidupan dan bumi yang begitu indah.<br />
Terkadang manusia yang congkak (mungkin termasuk saya hehe&#8230;.) merasa bangga bahkan lupa ketika berhasil menemukan hal baru yang sebelumnya belum pernah ada. Bahkan tak jarang, akhirnya beberapa manusia lebih mengimani ilmu pengetahuan dan mencoba merasionalkan segalanya, hingga menafikkan Tuhan.</p>
<p>Ilmu dan KeTuhanan bagai dua sisi mata uang. selamanya tak akan pernah dapat terpisahkan. semakin anda mempelajari ilmu semakin anda menemukan ketakjuban pada Tuhan.<br />
pepatah bijak mengatakan<br />
<em>&#8220;Ilmu manusia itu bagaikan tetesan air yang jatuh dari ujung jarum, sedangkan untuk menulis ilmu yang dikuasai Tuhan memerlukan tinta yang banyaknya melebihi lautan &#8220;.(QS)</em></p>
<p>Saya sendiri begitu takjub akan kata Tuhan&#8230;..<br />
mencoba untuk semakin memahami dan menggali ilmu, semakin membuat saya sadar bahwa saya adalah makhluk yang rapuh tanpa kuasa Tuhan.<br />
Bahkan ilmu yang saya kuasai sekalipun tak akan pernah membuat saya merasa aman, jika dalam hati saya, saya tengah merasa jauh dari Tuhan.<br />
saya sangat sadar bahwa saya masih sangat kurang sempurna dalam mengungkapkan rasa terima kasih saya&#8230;.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rachmaona.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rachmaona.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rachmaona.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rachmaona.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rachmaona.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rachmaona.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rachmaona.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rachmaona.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rachmaona.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rachmaona.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rachmaona.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rachmaona.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rachmaona.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rachmaona.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rachmaona.wordpress.com&amp;blog=5674753&amp;post=21&amp;subd=rachmaona&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rachmaona.wordpress.com/2008/12/28/ilmu-dan-ketuhanan-bagai-dua-sisi-mata-uang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c3eac77292bc41b851e6be752fa50d4c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rachmaona</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rachmaona.files.wordpress.com/2008/12/dna-1.jpg?w=137" medium="image">
			<media:title type="html">dna-1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://rachmaona.files.wordpress.com/2008/12/dna.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">dna</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
