jump to navigation

Internet Vs Pendidikan: “Bukan Sekadar Minim Infrastruktur tetapi Budaya Belajar Ruang Kelas” December 15, 2009

Posted by rachmaona in education.
Tags:
add a comment

Manusia adalah bentuk gabungan dari jiwa dan raga. Arah gerak raga tergantung pada arah gerak jiwanya. Arah gerak jiwa bergantung pada makna yang diisikan ke dalamnya. Proses pengisian makna untuk menuntun arah gerak jiwa itu bergantung pada pendidikan yang diikuti selama hidupnya.

Dalam bahasa Yunani pendidikan adalalah “Pedagogik” yaitu ilmu menuntun anak. Bangsa Jerman memberikan pandangan tentang Erziehung yang setara dengan educare, yaitu : membangkitkan kekuatan terpendam atau mengaktifkan kekuatan/potensi anak. Dalam bahasa Jawa, pendidikan berarti panggulawentah (pengolahan), mengolah, mengubah kejiwaan, mematangkan perasaan, pikiran, kemauan dan watak, mengubah kepribadian sang anak.

Mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan memiliki kata dasar didik (mendidik), yaitu : memelihara dan memberi latihan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Sedangkan pendidikan mempunyai pengertian : proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses perbuatan, cara pendidik. Ki Hajar Dewantara (bapak pendidikan Indonesia) mendefinisikan pendidikan sebagai daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya.

Pendidikan bukan sekedar penyampaian materi akademis tetapi lebih menyangkut pada pembangunan karakter dari peserta didik yang mengikuti proses belajar mengajar. Guru berperan sebagai fasilitator dalam pendidikan yang bertugas sebagai pemercepat proses belajar siswa (mendorong) dan bukan berfungsi sebagai tokoh yang mendominasi pendidikan. Dalam kata lain guru mendorong muridnya untuk tumbuh berdasarkan karakter dan potensinya untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya demi kreativitas yang mengarah pada kemajuan kehidupannya.

Internet dan Pendidikan
Berawal dari sebuah sejarah singkat aktivitas online melalui jaringan paket radio pada tahun 1993-1995 di Jawa Barat. Aktivitas tersebut akhirnya dapat menggabungkan sekolah-sekolah seperti STM Pembangunan di Cimahi, UNPAD, UNPAR dll menggunakan walkie talkie ke gateway di ITB. Akhirnya berlanjut pada tahun 1997-2000 dengan munculnya Jaringan AI3 Indonesia yang merupakan jaringan Internet pendidikan skala besar yang sifatnya relatif swadaya masyarakat yang pertama beroperasi di Indonesia. Kemudian melalui pengawasan Direktur Pendidikan Menengah Kejuruan di Dinas Pendidikan, DR. Gatot HP, mulai dikembangkan jaringan informasi sekolah yang menjadi tempat srharing pengetahuan antar guru SMK yang mulai mengandalkan mailing list dikmenjur@yahoo.com.
Pada tahun 2004 SMK di DKI dan Jawa Barat mulai mengembangkan WAN kota dengan membuat ISP kecil agar sekolah di kota tersebut dapat mendapatkan akses internet secara bersama dengan biaya murah. Implementasi WAN tersebut akhirnya disebarkan di 30-an kota di Indonesia. WAN DKI di SMK Jayawisata yang dipimpin leh Bona Simanjuntak diakui sebagai salah satu kategori WAN yang baik. WAN DKI muncul sebagi salah satu contoh WAN karena dikelola oleh sumber daya manusia yang memiliki motivasi dan semangat juang untuk membangun jaringan di kotanya. Pada tahun 2005 SMK tersebut dinobatkan menjadi ICT Center terbaik di Indonesia (dari wikipedia).
Internet sepanjang millenium baru menjadi primadona baru dalam komunikasi dan digunakan di berbagai kesempatan aktivitas manusia termasuk pendidikan. Internet dan generasi muda menjadi satu kesatuan yang menarik perhatian pasar teknologi komunikasi dan informasi, hingga pada tahun 2004 PT Telkom mengeluarkan program Internet goes to scholl. Bahkan pada tahun 2006 jaringan PT Telkom dimanfaatkan sebagai sarana penunjang pembangunan jaringan pendidikan nasional di bawah kepemimpinan Dr. Ir. Gatot Hari Priowirjono. Jaringan tersebut menghubungkan 464 titik (sampai 1 April 2007) yang menyambungkan 390 Dinas pendidikan kota/ kabupaten, 33 Kantor Dinas Pendidikan Propinsi, 20 Perguruan tinggi penyelenggara program teknisi, 3 unit Depdiknas Pusat, 2 PPPG, 5BPPLSP dan 1 LPMP.
Pendidikan sebagai proses pengembangan karakter dan pengetahuan serta wawasan manusia sangat diharapkan dapat menyebar secara merata di seluruh Indonesia. Internet sangat diharapkan berperan secara aktif dalam hal pemerataan pendidikan itu, karena sarana komunikasi murah dan efektif yang dianggap dapat memeratakan pendidikan saat ini adalah internet. Televisi, radio, buku, koran, majalah, maupun media ruang kelas konvensional memiliki segala keterbatasan baik jangkauan, kecepatan, dan biaya, sedangkan internet sebagai media baru sementara ini dapat meminimalisir ketiga hambatan tersebut.
Kelebihan yang dimiliki internet dibanding media pembelajaran lainnya adalah sebagai berikut:
1. memudahkan peserta didik mencari bahan referensi
2. mengurangi kendala jarak dalam penyampaian informasi
3. memudahkan peserta didik yang memiliki kendala jarak untuk berinteraksi dengan pengajar
4. kemudahakan untuk proses pemerataan informasi, pengetahuan, dan pengaruh pendidikan.
pada intinya internet mengatasi kendala waktu dan jarak yang sering dihadapi peserta didik dan pengajar terutama yang memiliki akses terbatas karena tidak berada di daerah pusat ibukota. Dalam segi biaya ketika internet telah dimiliki dan dapat digunakan maka penghematan terhadap biaya komunikasi dapat dilakukan karena internet menyediakan berbagai fasilitas untuk mendukung proses komunikasi. Namun bagi mereka yang belum memiliki akses internet, pengadaan internet menjadi hal yang memerlukan investasi besar, karena pengadaan internet memerlukan pengadaan piranti pendukungnya seperti PC dan jaringan telepon/wifi/Lan dan hal inilah yang terjadi di Indonesia saat ini.
Bagi negara yang memiliki luas wilayah dan jumlah penduduk besar seperti Indonesia penggunaan internet sangat membantu proses pemerataan informasi, pengetahuan dan pembangunan karakter pendidikan. Hanya saja masalah klasik berupa minimnya infrastruktur pendukung internet di Indonesia sangat terbatas. Infrastuktur tersebut berupa SDM, kesiapan piranti pendukung, dan sistem pendidikan itu sendiri.
Sistem pengajaran konvensional menggunakan ruang kelas merupakan hal unik yang perlu dipertimbangkan untuk mendorong pendidikan Indonesia menjadi pendidikan virtual dengan teknologi internet. Ruang kelas dan hadirnya pengajar serta peserta didik dipandang masih perlu dilakukan karena ada proses pertukaran motivasi dan psikologi dari keduanya yang akan sulit didapat dari pendidikan virtual.
Akhirnya muncullah berbagai penerapan seperti mahasiswa hanya menggunakan internet untuk menambah referensi bahan bacaan dan tetap masuk ruang perkuliahan seperti biasa. Ada juga yang menerapkan mix dan disebut sebagai Blended Learning yang menggabungkan sistem pengajaran melalui kelas dan virtual. Bahkan ada pula yang berani memberikan kelas virtual dan menjaring 24.000 mahasiswa aktif tiap semesternya seperti Binus University.
Internet juga dikembangkan sebagai pusat diskusi, penyebaran informasi, hingga penilaian terhadap kinerja dosen. Internet menjadi media pembelajaran yang dapat dimanfaatkan untuk memeratakan proses pendidikan dengan meminimalisir kendala jarak, waktu dan biaya. Penerapan internet di Indonesia tidak hanya masalah infrastruktutr tetapi juga paradigma pembelajaran konvensional melalui kelas. Walaupun sudah ada model Blended learning yang berusaha memadukan unsur manfaat internet dan pengajaran konvensional, tetapi pemanfaatannya dan pengetahuan untuk menggunakannnya sementara ini terbatas. Hal penting yang perlu dilakukan adalah melakukan kajian tentang internet dan pendidikan serta mengikutsertakan pengajar dan peserta didik melalui partisipasi aktif untuk memanfaatkan internet sebagai media pendidikan. Partisipasi aktif yang dimaksud adalah peserta didik dan pengajar terlibat secara aktif dalam usaha pengembangan internet untuk pendidikan. Klub Guru Indonesia dan jaringan antar sekolah yang dibangun Telkom dapat menjadi sarana efektif untuk mendukung terciptanya hal itu. Masalah krusial pemanfaatan internet untuk pendidikan terletak pada pola pikir peserta didik dan pengajar, walaupun infrastruktur telah disiapkan jika individu yang menerima belum siap maka semuanya akan percuma. Oleh karena itu intensitas penyebaran ide pemanfaatan internet serta pencarian metode penggunaan internet tanpa menghilangkan unsur ikatan emosional dan motivasi antara pengajar dan peserta didik adalah hal yang terpenting. Program-Program seperti Internet Goes to Scholl, pemanfaatan komunitas pembelajar Online dapat menjadi pelopor dan inspirator penggunaan internet, kerjasama dengan mereka penting untuk dilakukan bukan hanya masalah pembangunan infrastruktur.

Ancaman Persaingan Ekonomi Kreatif Terhadap Nasionalisme Bangsa October 14, 2009

Posted by rachmaona in ekonomi.
1 comment so far

Dominasi UKM dalam Ekonomi Kreatif

Ekonomi kreatif adalah wacana baru yang sedang dikaji dan dicoba untuk diimplementasi secara serius oleh pemerintah dalam hal ini Departemen Perdagangan. Dalam berbagai naskah studi ekonomi kreatif dan pemaparan Mari Elka Pangestu di media massa, ekonomi kreatif digambarkan sebagai sebuah kondisi ekonomi yang dipenuhi oleh daya kreativitas dalam hal penciptaan nilai tambah, strategi manajemen, hingga kepiawaian dalam menangkap peluang. Daya kreativitas yang diharapkan bahkan hingga menyentuh pada usaha untuk menjaga kelestarian unsur budaya lokal dan lingkungan, pemanfaatan energi yang terbarukan serta kemampuan untuk berkolaborasi dan mengorkestrasi dalam satu wadah kegiatan ekonomi.

Secara wacana, ekonomi kreatif memiliki arah yang tidak  hanya menguntungkan secara ekonomi tetapi juga secara moral, budaya, alam dan lingkungan masyarakat. Daya kreativitas yang timbul dari ekonomi kreatif, berdampak positif terhadap peningkatan kapasitas daya saing dan inovasi. Dibalik segala manfaat yang diharapkan dari ekonomi kreatif terdapat satu kenyataan yang tidak boleh dihilangkan yaitu dominasi usaha kelas kecil dan menengah (UKM) di Indonesia.

UKM dengan segala kekuatannya yang terbukti tahan terhadap terpaan krisis, di sisi lain juga memiliki persoalan dan kelemahan yaitu persaingan tidak sehat diantara UKM itu sendiri hingga persaingan dengan perusahaan besar padat modal dan berkapasitas produksi massal. Persaingan sebenarnya juga dapat dijadikan faktor pemicu berkembangnya kreativitas, tetapi jika persaingan berlangsung tidak adil yang terjadi adalah melemahnya ekonomi kreatif itu sendiri. (more…)

Enterpreneur Apan Sich…………………… March 16, 2009

Posted by rachmaona in 1.
1 comment so far

Pengertian Enterpreneurship dan Entrepeneur
Enterpreneurship merupakan hal yang lebih merujuk kepada kepribadian dan semangat tertentu, yaitu pribadi yang mulia, kemandirian, inovasi, pengambilan keputusan dan penerapan tujuan yang telah dipertimbangkan. Entrepreneur merupakan seorang yang mempunyai mental dan semangat entrepreneurship, bermental kuat, mempunyai rasa percaya diri yang tinggi, efisiensi waktu, kreativitas, ketabahan, ulet, kesungguhan, dan bertujuan untuk selalu mempersiapkan pribadi maupun masyarakat agar data hidup layak sebagai manusia, sehingga kehadirannya berdampak positif bagi pengembangan dirinya sendiri, masyarakat, alam dan kehidupan (Nasution, et al 2001).

terus gimana cara mengenali ciri-ciri enterpreneur ??????

(more…)

Entrepreneurship sebagai Sarana Optimalisasi Jati Diri March 14, 2009

Posted by rachmaona in 1.
add a comment

In this world no one is in a same condition. I’m not you and you’re not me. In a brief statement all of us in this world is different, me and you has a different role.
But We are a God creature, and we dream about beautiful life base our capability. Entrepreneurship assist you to get that dream.
Di dunia ini tidak seorang pun berada pada kondisi yang sama. Saya berbeda dengan anda dan anda berbeda dengan saya. Pikiran, perasaan, fisik, hingga DNA saya sangat berbeda dengan anda. Dalam kata yang singkat, kita semua berbeda dan memiliki masing-masing peran yang berbeda.
Namun dibalik semua perbedaan tersebut terdapat satu kesamaan yang tidak dapat dihindari. Masing-masing dari kita bernaung dalam nama yang sama, kita adalah makhluk bernama manusia. Manusia yang memiliki kepentingan untuk hidup di bumi ini.
Kemudian kepentingan yang seperti apa? Yaitu kepentingan untuk hidup secara layak, bahagia dan tentram baik secara jasmani maupun rohani, sesuai jati diri kita masing-masing.
Enterpreneurship merupakan istilah yang tengah gencar-gencarnya didengungkan beberapa waktu terakhir. Setelah saya telusuri, rupanya enterpreneurship memiliki banyak pemaknaan dan telah diterapkan di berbagai bidang. Ada yang memaknai sebagai kemampuan melihat peluang dan resiko. Ada yang mengartikan sebagai keberanian dan keahlian untuk memulai bisnis. Ada juga yang memaknai sebagai kemampuan seseorang untuk bermanfaat secara sosial.
Dalam buku The Spirit of Enterpreurship, karangan Nandram (Nyenrode Universiteit, Belanda) dan Samsom (worldwide lecturer in entrepreneurship), dijelaskan bahwa Richard Cantillon (1680-1734) adalah seorang ahli filsafat pertama yang menaruh perhatian besar terhadap istilah enterpreneurship. Cantillon melihat sebuah peran entrepreneur dalam sebuah masyarakat, dalam kata lain untuk membawa supply and demand ke dalam kondisi yang seimbang, dengan profit sebagai motifnya.
Pemaknaan Cantillon tersebut kini telah mengalami perluasan. Seperti yang telah disebutkan di atas istilah entrepreneurship berkembang dan mengalami banyak pemaknaan serta penerapan di berbagai bidang. Bahkan entrepreneurship bukan lagi dikaitkan dengan ekonomi semata. Lebih dari itu enterpreneurship berhubungan dengan istilah yang lebih luas yaitu resiko, peluang, manfaat, dan semangat (passion).
Lalu apa hubungannya dengan keberadaan manusia seperti yang telah disinggung di atas? Manusia yang memiliki peran berbeda, dapat menggunakan sarana enterpreneurship untuk mempertegas perannya sebagai manusia yang memiliki kehidupan di bumi ini. Enterpreneurship memudahkan manusia untuk mencapai tujuan kesejahteraan hidup, yaitu hidup dengan layak, bahagia, dan tentram seperti yang telah diimpikan setiap manusia.

Bagaimana caranya?
(more…)

Tanduk Majeng Presented in Bangkok March 12, 2009

Posted by rachmaona in ekonomi.
add a comment

Namanya tidak terlalu sulit untuk diingat. Bu Tini….

Wanita satu ini juga sulit untuk dilupakan walaupun hanya sekali saja anda bertemu dengannya. Logat Madura dan guyonan  segar yang ia tawarkan dijamin membuat anda ketagihan untuk  bertemu dengannya. Terhibur? Pastinya…… Tapi bukan sifat Bu Tini yang pandai ber-guyon ria yang ingin saya paparkan dalam tulisan ini, tetapi lebih kepada karakter bisnis dan social entrepreneur yang dimiliki oleh Bu Tini.

“Nama saya Bu Tini mbak“, begitulah cara beliau memperkenalkan diri kepada saya.

Bu Tini berdarah Madura, usianya kurang lebih 40 tahun ke atas dan menamatkan pendidikan terakhirnya di bangku SMA kota Situbondo.   Ia seorang wiraswasta di bidang pengolahan makanan dari kota Situbanda. Kripik gayam menjadi produk andalan beliau.

Kini Bu Tini telah tergabung dalam sebuah organisasi bernama HWPRI (Himpunan Wanita Pekerja Rumahan Indonesia).  HWPRI yang didirikan sejak tahun 1995 menampung para wanita yang mempunyai kegiatan perekonomian di rumahnya. Bu Tini yang tertarik karena merasa mempunyai latar belakang wanita pekerja rumahan tersebut merasa perlu bergabung dengan HWPRI, dan saat ini Bu Tini menjabat sebagai ketua HWPRI nasional.

Ketika saya berdialog langsung dengan Bu Tini, Bu Tini menceritakan suka dukanya dalam menjalankan kewajibannya di HWPRI. HWPRI selain menjadi wadah untuk mengembangkan kegiatan perekonomian anggotanya, juga sangat peduli dengan pemberdayaan wanita pekerja rumahan yang pendapatannya sangat minim. Terutama wanita pekerja rumahan yang bekerja sebagai tenaga lepas. Tenaga lepas adalah para wanita yang mengambil garapan dari rumah majikannya dan mengerjakannya di rumah atau oleh majikannya disediakan tempat khusus untuk mengerjakan pekerjaan mereka. Bu Tini dan kawan-kawannya di HWPRI membantu para wanita tersebut melalui kegiatan-kegiatan bakti sosial, pelatihan dan pembinaan.

Yang menarik adalah pengalaman BU Tini sebagai perwakilan HWPRI Indonesia yang harus presentasi di Bangkok Thailand dalam acara yang diselenggarakan oleh OXfam.

“Saya waktu itu presentasi di Bangkok. Itu pengalaman pertama saya pergi naik pesawat dan ke luar negeri. di sana saya harus presentasi di depan perwakilan negara-negara di ASEAN. Pake bahasa Inggris lagi. jadi setelah saya buat draft materi yang harus saya sampaikan, saya meminta bantuan teman saya yang fasih bahasa inggris untuk mentranslate-nya. Tapi jangan tanya waktu saya harus menjawab pertanyaan. Teman saya yang akhirnya saya gandeng ke depan….Hehehe…..”, katanya sambil tertawa.

Mendengar pengalamannya yang satu itu satu hal yang saya katakan pada beliau…..

WAH…..salut bu….semangat.

Perbudakan Bangsa dan Bahasa February 27, 2009

Posted by rachmaona in 1.
1 comment so far

Ada satu kejadian lucu beberapa yang  waktu lalu….

salah seorang rekan yang tengah mempresentasikan cara penjualan produknya, berkata demikian…

I  promote my product mouth to mouth…..”

Sontak saja, mentor manajemen yng bertugasa saat itu langsung turun tangan. Setelah rekan saya menyelesaikan presentasinya, beliau menjelaskan bahwa  promosi penjualan secara mulut ke mulut jika ditranslate ke dalam bahasa Inggris akan menjadi “word of mouth” dan bukan “mouth to mouth” . Walaupun dalam ranah bahasa Indonesia benar, tetapi menjadi tidak benar jika dialihkan ke bahasa Inggris, sebab kesan yang ditimbulkan akan menjadi kurang sopan.

Bahasa adalah  salah satu alat komunikasi verbal yang berfungsi menerjemahkan pesan dan informasi dari peng-encode (narasumber).  Secara sederhana kesuksesan penyampaian pesan melalui bahasa adalah….saat si penerima pesan mengerti isi pesan yang disampaikan oleh si pengirim.

Begitu sakralnya bahasa dalam komunikasi menjadikan pentingnya penguasaan bahasa asing. Tak hanya itu, bahkan kemampuan bahasa juga dijadikan tolok ukur kapabilitas seseorang. Mau bukti…..Coba sekali-kali perhatikan kolom lowongan kerja di koran. Bahasa Inggris dan Mandarin adalah syarat kunci diterimanya seseorang dalam proses recruitment.

Mengapa demikian????

Ilmu pengetahuan dan informasi yang menjadi aset dunia global saat ini, sebagian besar beredar dalam versi Inggris. Semua itu berawal dari penguasaan informasi dan pengetahuan oleh barat, yang mengakibatkan mereka unggul dalam berbagai bidang. 

Saya sering mendengar teman-teman berkata demikian…

Emang dasarnya Indonesia aja yang ga jelas….pemerintahnya ga beres banyak KKN…dan umpatan-umpatan lainnya.

Memang kenyataannya Indonesia itu bak tikus mati dalam lumbung padi….Namun walau dicerca habis-habisan, saya tetap dan sangat yakin bahwa sebenarnya SDM Indonesia itu unggul, walaupun kini dalam kondisi yang amat sangat terpuruk, hingga para TKI di Indonesia sering diperlakukan kurang baik di luar negeri.

Bukan SDM nya yang kurang pinter,  sebab belum ada satu penelitian pun yang mengatakan bahwa IQ orang Indonesia itu rendah. Buktinya Yohanes Surya berhasil mengantar Putra Indonesia meraih kursi kehormatan di Olimpiade Sains Fisika.

Akses terhadap Informasi dan pengetahuan lebih menjadi alasan kuat dalam kasus rendahnya SDM Indonesia.  SDM Indonesia itu mengalami kelangkaan informasi. Bayangkan bagaimana bisa unggul kalau pencarian informasi bak mencari air di padang pasir. Mau bukti lagi….

Kemarin saya mendapat tugas untuk menganalisis peluang bisnis dalam perekonomian Indonesia Global. Saya sangat terhenyak  sat mentor saya memberi sejumlah bahan berbentuk e-book yang semuanya dikemas dalam versi Inggris. Ketika saya membacanya, ternyata sangat sesuai dengan dugaan saya. Isinya sangat lengkap dan detail. Namun bahasanya terlalu tinggi hingga saya berkali-kali membuka kamus untuk memahami ide pokok yang disampaikan.

Sekarang mari kita refleksikan…Bukankah pengembangan kapasitas berawal dari analisa kelemahan dan kelebihan diri sendiri. Lalu, Kapan kita maju kalau untuk mengenali potensi diri sendiri harus buka catatan tetangga? Inilah yang akhirnya saya namakan Perbudakan Bangsa dan Bahasa.  Mau seratus kali enterepreneur didengungkan, kalau untuk melakukan brainstorming saja harus terhalang oleh bahasa bagaimana bisa menganalisis….

Kini tercetus suatu ide baru, mungkin sebaiknya saya harus mengkaji ilmu bahasa tentang pemaknaan kata asing. Jadi tidak perlu lagi terjadi Assymetri Information…

duh mahalnya Informasi…..

Paradigma Komoditas ke Paradigma Hidup February 16, 2009

Posted by rachmaona in 1.
1 comment so far

Pertanian secara luas melingkupi perikanan, pertanian pangan, kehutanan, dan peternakan. Sebagai tolak ukur ketahanan pangan suatu negara pertanian mampu mencerminkan standar hidup dari sebuah negara agraris seperti Indonesia.
Sebagai comparative advantage Indonesia pertanian selama ini hanya dipandang melalui sisi pencapaian produktivitas atau keberhasilan swasembada pangan, dan belum menyentuh aspek keberlanjutan pertanian. Selama beberapa dekade yang lalu, pertanian dipandang dari segi liberal dan tradisional. Pertanian diposisikan sebagai komoditas dan penyedia bahan baku industry yang harus diproduksi dalam jumlah banyak guna menghasilkan keuntungan yang maksimal.
Dalam pandangan kapitalis-liberalis –murni, sektor pertanian dipandang sebagai komoditas yang tunduk pada hukum permintaan, penawaran, harga, dan keuntungan (Krisnamurthi, 2006). Pandangan seperti ini menempatkan produk pertanian sebagai produk yang murah, sehingga petani hanya mampu bertindak sebagai price taker. Harga akan diatur oleh besarnya permintaan dan penawaran, artinya naik turunnya harga dikendalikan oleh jumlah komoditas pertanian yang tersedia di pasar dan permintaan konsumen pertanian terhadap komoditas tersebut. Sebagai contoh, petani bawang putih suatu saat akan mengalami kerugian akibat merosotnya harga yang disebabkan oleh melimpahnya komoditas bawang putih di pasar, sedangkan jumlah pembeli untuk komoditas bawang putih tetap.
Sedangkan menurut pandangan tradisional, peran pertanian hanya dilihat sebagai penyedia bahan baku, penyedia pasar, penyedia surplus modal, dan penyedia devisa (Kuznet, 1964). Pandangan tersebut mengakibatkan pertanian hanya ditempatkan dalam posisi untuk melayani kebutuhan industri bukan sebagai partnership. Padahal hubungan industri dan pertanian bersifat saling terkait dan saling tergantung (Krisnamurthi, 2006). Keberlangsungan industri tergantung pada ketersediaan bahan baku, dan keberlanjutan produksi bahan baku bergantung pada keberlangsungan proses produksi yang dilakukan oleh industri.
Kedua pandangan di atas melahirkan berbagai kebijakan yang berporos pada pencapaian swasembada pangan. Swasembada pangan yang dijadikan topic dalam politik pertanian pada era orde baru, merupakan ukuran keberhasilan sektor pertanian.
Sejak awal 1970-an pemerintahan orde baru menerapkan paket kebijakan teknologi dan kelembagaan yang akhirnya berhasil mengubah Indonesia dari negara pengimpor beras menjadi negara berswasembada beras pada tahun 1980-an. Namun keberhasilan yang dikemas dalam kebijakan revolusi hijau tersebut, rupanya hanya bersifat sementara dan memakan biaya yang sangat besar (Krisnamurthi, 2006). Biaya yang harus dibayar oleh program revolusi hijau ini adalah hilangnya institusi lokal, musnahnya keanekaragaman sumber daya hayati, menurunnya kualitas tanah, serta menurunnya kualitas lingkungan secara keseluruhan. Biaya terberat lain yang harus ditanggung adalah gagalnya peningkatan kesejahteraan dan keberdayaan petani walaupun produktivitas yang dicapai mencapai pada tahap swasembada. Sektor pertanian saat ini bahkan semakin tidak mandiri karena sudah sangat tergantung pada industri pertanian raksasa seperti industry benih, pupuk, pestisida, hingga mesin-mesin pertanian yang kesemua proyeknya dibiayai oleh utang dan inputnya didatangkan dari luar negeri (Irham, 2006).
Setelah era revolusi hijau dan krisis moneter 1997, pada tahun 2004 pemerintah kembali berhasil mencapai swasembada beras. Namun di lain hal permasalahan kesejahteraan petani, dan keberlanjutan pertanian tetap menjadi masalah utama yang melemahkan keberhasilan swasembada beras tersebut. Sensus penduduk pada tahun 2003, menunjukkan bahwa sejak tahun 1993 jumlah petani Indonesia mengalami peningkatan dari 20,8 juta menjadi 25,4 juta rumah tangga, atau dengan laju petumbuhan rata-rata sebesar 2,2 persen. Dari pertambahan tersebut jumlah petani “gurem”, -petani dengan luas lahan kurang dari 0,5 hektar-, bertambah dari 10,8 juta atau 52,7 persen dari jumlah total rumah tangga petani, menjadi 13,7 juta pada tahun 2003 atau sekitar 56,5 persen (Krisnamurthi, 2006). Artinya telah terjadi kesenjangan antara ketersediaan lahan pertanian dengan jumlah pekerja yang bekerja dalam sektor pertanian. Jumlah lahan yang tersedia semakin sempit sedangkan julah pekerja yang ditampung pertanian semakin meningkat, inilah yang menjadikan kesejahteraan petani terpuruk, sebab petani hanya mampu menggarap lahan dengan luas yang sempit.
Pemenuhan kebutuhan pangan manusia ditunjang melalui serangkaian kegiatan dalam pertanian, sehingga kualitas pertanian mampu menggambarkan secara langsung kualitas hidup masyarakat sebagai konsumen produk pertanian. Kesehatan, kesejahteraan, kondisi lingkungan, dan keberdayaan adalah beberapa indikator yang dapat digambarkan melalui pertanian. Kualitas hidup tinggi yang dimiliki negara-negara maju merupakan cerminan tingginya kualitas pertanian yang mereka kembangkan.
Kompleksnya indikator kualitas hidup yang tergambar dalam kualitas pertanian memposisikan pertanian sebagai the way of life. The way of life tersebut harus dipelihara secara berkelanjutan, sebab selama manusia hidup pertanian tetap menjadi sektor yang berkaitan langsung dengan pangan, kesehatan dan kesejahteraan. Pentingnya pembangunan pertanian berkelanjutan melemahkan pandangan bahwa pertanian hanya dipandang sebagai komoditas dan penyedia bahan baku industri.
Sadar akan pentingnya perubahan pandangan terhadap pertanian, maka pada tanggal 11 September 2005, dicanangkanlah program revitalisasi pertanian. Tujuan utama revitalisasi pertanian adalah menempatkan kembali arti penting sektor pertanian secara proporsional dan konstektual dalam rangka menyegarkan kembali vitalitas, memberdayakan kemampuan dan meningkatkan kinerja pertanian untuk mendukung pembangunan nasional dengan tidak mengabaikan sektor lain.
Penempatan secara proporsional dan vital tersebut digapai melalui serangkaian rencana perubahan paradigma. Revitalisasi pertanian memandang perlunya perubahan paradigma berpikir masyarakat terhadap sektor pertanian. Perubahan paradigma tersebut dicapai melalui penanaman cara pandang sebagai berikut:
– sebagai penghasil bahan pangan dan bahan baku industri
– pembangunan daerah dan pedesaan
– penyangga dalam krisis
– penghubung sosial ekonomi masyarakat dari berbagai daerah
– kelestarian sumber daya lingkungan
– pembangun sosial budaya masyarakat
– kesempatan kerja, devisa, dan PDB
Perubahan paradigma memang sangat dibutuhkan untuk mengubah mindset masyarakat. Rancangan revitalisasi pertanian yang telah dicanangkan pun telah sedemikian baiknya disusun. Pelaksanaan untuk mengubah paradigma akankah sudah siap? Tergantung pada kesediaan insan bangsa ini untuk berpikir dalam jangka panjang da serius dalam mengeksekusi rancangan yang telah ada…….

Bekerja adalah Karsa, Karya dan Ibadah January 9, 2009

Posted by rachmaona in 1, education.
add a comment
  • 7 desember 2008
    7:15pm
    Bekerja adalah ibadah, karsa, dan karya bukan karena terpaksa (Nira Surya). Kata-kata itu didengungkan oleh seorang guru bijak saya bernama Nira Surya. Beliau telah mengabdi di SMA Negeri 5 Balikpapan, yang notabene adalah sekolah saya sendiri , selama kurang lebih lima belas tahun.
    Kata-kata mutiara di atas dilontarkan Bu Nira Surya dalam rangka menanggapi cerita saya. Cerita tersebut menyangkut minimnya sikap profesional pada salah seorang guru di SMA Negeri 5 Balikpapan.
    Berikut adalah cerita yang saya paparkan ke guru saya,
    Pagi itu setelah limabelas menit guru KP (kurang profesional) duduk di bangku keramat ruang kelas, ia memberi teladan sesat kepada anak muridnya.
    “Udah ya saya pergi dulu, ingat jangan bilang-bilang kalau saya perginya sebelum bel bunyi. Kalau ditanya bilang saja saya ke kamar mandi, saya ada urusan bisnis, penting. Nanti ujiannya gampang tenang aja kok nggak usah dipikir…”
    Di lain hari, ketika saya mengadakan acara perpisahan kelas, guru KP tersebut rupanya hadir. Di depan saya dan beberapa orangteman saya dia memberikan petuah yang sangat tidak masuk akal dilontarkan oleh seorang guru perempuan,
    “lho menurut saya merokok itu nggak apa-apa,,,,,,toh saya juga perokok, bu itu tuh….malah perokok berat….nggak masalah lah.”
    (more…)

doaku kepada-Mu Tuhan December 28, 2008

Posted by rachmaona in Islam.
add a comment

Tuhan…..
tolong jangan kau cabut rasa rinduku pada-Mu,
jangan kau cabut rasa terima kasihku pada-MU
jangan pula kau buat aku lupa akan segala materi di dunia
kuatkan imanku,
bimbinglah aku agar caraku berterima kasih kepada-Mu menjadi lebih sempurna
jadikan aku semakin mencintai-Mu
melalui ilmu
melalui apa yang aku baca di sekitarku di alamku

Ilmu dan KeTuhanan bagai Dua Sisi Mata Uang December 28, 2008

Posted by rachmaona in education.
add a comment

Kazuo Murakami, seorang pakar genetika terkemuka di dunia, dalam bukunya yang berjudul The Divine Massage of DNA. Menerangkan bahwa ujung dari segala penelitian yang telah ia lakukan adalah rasa kekagumannya yang mendalam pada sebuah titik, yang ia sebut sebagai “Sang Agung”.
Dalam setiap penelitiannya ia selalu menemuka bahwa gen mempunyai sistem kerja yang luar biasa dan tidak mungkin tercipta dari sesuatu yang biasa. Susunan dan kerja gen yang luar biasa pasti berasal dari suatu hal yang luar biasa pula. Murakami menyebut sesuatu yang luar biasa tersebut sebagai ” Sang Agung”.

(more…)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.