jump to navigation

Bekerja adalah Karsa, Karya dan Ibadah January 9, 2009

Posted by rachmaona in 1, education.
trackback
  • 7 desember 2008
    7:15pm
    Bekerja adalah ibadah, karsa, dan karya bukan karena terpaksa (Nira Surya). Kata-kata itu didengungkan oleh seorang guru bijak saya bernama Nira Surya. Beliau telah mengabdi di SMA Negeri 5 Balikpapan, yang notabene adalah sekolah saya sendiri , selama kurang lebih lima belas tahun.
    Kata-kata mutiara di atas dilontarkan Bu Nira Surya dalam rangka menanggapi cerita saya. Cerita tersebut menyangkut minimnya sikap profesional pada salah seorang guru di SMA Negeri 5 Balikpapan.
    Berikut adalah cerita yang saya paparkan ke guru saya,
    Pagi itu setelah limabelas menit guru KP (kurang profesional) duduk di bangku keramat ruang kelas, ia memberi teladan sesat kepada anak muridnya.
    “Udah ya saya pergi dulu, ingat jangan bilang-bilang kalau saya perginya sebelum bel bunyi. Kalau ditanya bilang saja saya ke kamar mandi, saya ada urusan bisnis, penting. Nanti ujiannya gampang tenang aja kok nggak usah dipikir…”
    Di lain hari, ketika saya mengadakan acara perpisahan kelas, guru KP tersebut rupanya hadir. Di depan saya dan beberapa orangteman saya dia memberikan petuah yang sangat tidak masuk akal dilontarkan oleh seorang guru perempuan,
    “lho menurut saya merokok itu nggak apa-apa,,,,,,toh saya juga perokok, bu itu tuh….malah perokok berat….nggak masalah lah.”

    Setelah mendengar cerita saya, Bu Nira tersenyum. Bu nira berkata bahwa di dunia ini banyak sekali orang yang seperti itu. Tidak hanya guru, tetapi semua kalangan, bisa jadi pengusaha, konglomerat, dokter, menteri, bahkan petani atau buruh sekalipun. Semua itu diakibatkan karena kecondongan mereka hanyalah pada satu hal yaitu materi. Dimana pekerjaan untuk nafkah, nafkah itu uang, dan orang butuh uang untuk hidup.
    Memang tidak dapat dinafikan bahwa segalanya butuh uang. Namun yang berbeda adalah cara menyikapi uang. Menurut Bu Nira sikap manusia terhadap uang dapat dibagi menjadi dua. Pertama, sikap “Budak uang” dan yang kedua adalah “Pengatur uang”.
    Jika seseorang mempunyai sikap yang pertama maka dapat dipastikan bahwa
     orang tersebut akan sangat mudah mencari uang,
     cepat kaya raya,
     segalanya dihubungkan dengan bagaimana mendapatkan keuntungan
     punya banyak uang
     dan bahkan sanggup jungkir balik demi uang (maksudnya menghalalkan segala cara untuk uang)

    Jika seseorang mempunyai sikap yang kedua maka merupakan kebalikan dari sikap yang pertama,
     orang tersebut akan sedikit susah mencari uang (karena pilih-pilih pekerjaan),
     lama kaya raya,
     tidak selamanya mendaptkan keuntungan kadang kerugian
     tidak rela menukar kebaikan dan kebenaran dengan uang akibatnya ya sering mengalami kerugian dan pencekalan

    Seorang budak uang akan lebih cepat kaya raya dibandingkan pengatur uang. Sebab mereka berprinsip pada kecepatan bukan ketepatan (sumbangan kata dari Soe Hok Gie). Yang penting asal cepat, urusan tidak tepat belakangan. Akibatnya adalah seperti guru KP di atas. Yang penting urusan bisnis dulu, sebab bisnis lebih menjanjikan dari gaji seorang guru. Profesi guru mungkin hanya dijadikan perlindungan tatkala bisnisnya tengah macet. Namun ia tidak berpikir bahwa sikapnya tersebut bisa jadi ditiru oleh anak muridnya. Selain itu para muridnya tentu saja akan kehilangan kesempatan untuk menimba ilmu karena ia tinggalkan begitu saja.
    Kemudian guru saya mengakhiri penjelasannya demikian,
    “Kalau ibu, ketika ibu menemukan bahwa kemungkinan ibu memang digariskan Tuhan untuk menjadi seorang guru, ya ibu laksanakan dengan sepenuh hati. Ibu bisa saja ‘nyambi’, tetapi apakah itu nantinya tidak mengganggu. Kalau dipikir secara logika orang pasti sepakat bahwa gaji seorang guru itu tidak sebanyak pendapatan pengusaha. Namun tatkala kita telah menemukan jati diri kita yang sebenarnya maka hal tersebut akan lain ceritanya. Jati diri saya adalah seorang guru, sehingga saya harus sepenuh hati menjadi seorang guru. Saya harus profesional, mengajar dengan penuh keikhlasan, agar pekerjaan saya dapat pahala. Sebab sebuah pekerjaan adalah karya, karsa, dan ibadah bukan karena terpaksa. Jadi kita akan melaksanakannya dengan senang dan amat sangat bahagia tatkala kita dapat berbuat lebih untuk pekerjaan kita. Uang kemudian tidak menjadi persoalan. Toh akhirnya saya tetap cukup makan, masih sanggup membiayai kehidupan keluarga dan orang lain. Dan saya masih mendapatkan segala keperluan hidup saya dengan cukup. Ya walaupun tidak mewah, tapi cukup. Karena saya yakin karya yang baik menghasilkan hal yang baik pula.”
    Seorang bijak mengatakan kepada saya bahwa rasa senang adalah ekspresi dari kemerdekaan jiwa. Kemerdekaan adalah hakikat hidup manusia. Sehingga dapat saya simpulkan bahwa sebelum bekerja kita harus menemukan 3 hal,
    1. siapa jati diri kita sebenarnya,
    2. apa tujuan hidup kita,
    3. mau seperti apa hidup kita.
    Ketiga hal di atas amatlah penting bagi hidup kita selanjutnya, sebab tanpa kita mengetahui siapa jati diri kita, kita tak akan pernah paham mengapa kita harus ada dan turut berperan serta dalam kehidupan di dunia ini. Tanpa mengetahui arah tujuan kita, kita akan menjadi kutu loncat, terus berkutat pada trial and error. Maksudnya semua hal dicoba dan tak ada yang berbekas dalam diri kita, kecuali rasa bangga yang hampa. Kemudian yang ketiga, tanpa kita tahu “mau seperti apa hidup kita”, kita akan terus disibukkan oleh pencapaian orang lain (hingga mudah diatur oleh keinginan orang lain), tanpa ada perhatian khusus untuk melihat keistimewaan yang ada dalam diri kita dan mengolahnya sesuai keinginan kita.
    Yang terakhir adalah sedikit buah pikiran dari beberapa orang:
    1. Bekerjalah untuk memberdayakan dirimu (Daniel Sugama), bukan untuk menyajikan dirimu pada kehidupan yang konon katanya kejam.
    2. Buah karyamu tidak hanya mengantarkanmu kepada sukses tetapi juga kemerdekaan.
    3. Pekerjaan adalah karsa, karya dan ibadah, bukan keterpaksaan (Nira Surya)
    4. Salah satu cara berterimakasih kepada Tuhan adalah dengan mencintai dan melahirkan dirimu apa adanya, sesuai dengan kebenaran dan kebaikan yang telah diberikan oleh Tuhan.
    5. Orisinalitas adalah jati diri, Pengisi kehampaan adalah tujuan, dan Pemacu semangat adalah keinginan.
    Nah, itulah sekelumit pikiran yang mungkin penuh dengan kekurangan. Namun besar harapan saya jika sekelumit pikiran tersebut berguna minimal bagi hidup saya. Dan hal di atas bukan hanya menyangkut pekerjaan atau profesi, tetapi juga menyangkut segala bentuk aktivitas manusia yang lain, baik dalam menimba ilmu, membina rumah tangga, sosial, dan lain-lain..
    So ………
    Selamat berkarya!!!!!!!!!!!!!
    Give your contribution by your high education !!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    Wallahu alam bis shawab (artinya: hanya Allah (Tuhan) yang Maha Tahu segala Ilmu)

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: