jump to navigation

Entrepreneurship sebagai Sarana Optimalisasi Jati Diri March 14, 2009

Posted by rachmaona in 1.
trackback

In this world no one is in a same condition. I’m not you and you’re not me. In a brief statement all of us in this world is different, me and you has a different role.
But We are a God creature, and we dream about beautiful life base our capability. Entrepreneurship assist you to get that dream.
Di dunia ini tidak seorang pun berada pada kondisi yang sama. Saya berbeda dengan anda dan anda berbeda dengan saya. Pikiran, perasaan, fisik, hingga DNA saya sangat berbeda dengan anda. Dalam kata yang singkat, kita semua berbeda dan memiliki masing-masing peran yang berbeda.
Namun dibalik semua perbedaan tersebut terdapat satu kesamaan yang tidak dapat dihindari. Masing-masing dari kita bernaung dalam nama yang sama, kita adalah makhluk bernama manusia. Manusia yang memiliki kepentingan untuk hidup di bumi ini.
Kemudian kepentingan yang seperti apa? Yaitu kepentingan untuk hidup secara layak, bahagia dan tentram baik secara jasmani maupun rohani, sesuai jati diri kita masing-masing.
Enterpreneurship merupakan istilah yang tengah gencar-gencarnya didengungkan beberapa waktu terakhir. Setelah saya telusuri, rupanya enterpreneurship memiliki banyak pemaknaan dan telah diterapkan di berbagai bidang. Ada yang memaknai sebagai kemampuan melihat peluang dan resiko. Ada yang mengartikan sebagai keberanian dan keahlian untuk memulai bisnis. Ada juga yang memaknai sebagai kemampuan seseorang untuk bermanfaat secara sosial.
Dalam buku The Spirit of Enterpreurship, karangan Nandram (Nyenrode Universiteit, Belanda) dan Samsom (worldwide lecturer in entrepreneurship), dijelaskan bahwa Richard Cantillon (1680-1734) adalah seorang ahli filsafat pertama yang menaruh perhatian besar terhadap istilah enterpreneurship. Cantillon melihat sebuah peran entrepreneur dalam sebuah masyarakat, dalam kata lain untuk membawa supply and demand ke dalam kondisi yang seimbang, dengan profit sebagai motifnya.
Pemaknaan Cantillon tersebut kini telah mengalami perluasan. Seperti yang telah disebutkan di atas istilah entrepreneurship berkembang dan mengalami banyak pemaknaan serta penerapan di berbagai bidang. Bahkan entrepreneurship bukan lagi dikaitkan dengan ekonomi semata. Lebih dari itu enterpreneurship berhubungan dengan istilah yang lebih luas yaitu resiko, peluang, manfaat, dan semangat (passion).
Lalu apa hubungannya dengan keberadaan manusia seperti yang telah disinggung di atas? Manusia yang memiliki peran berbeda, dapat menggunakan sarana enterpreneurship untuk mempertegas perannya sebagai manusia yang memiliki kehidupan di bumi ini. Enterpreneurship memudahkan manusia untuk mencapai tujuan kesejahteraan hidup, yaitu hidup dengan layak, bahagia, dan tentram seperti yang telah diimpikan setiap manusia.

Bagaimana caranya?

Dalam entrepreneurship dikenal istilah-istilah seperti risk, attitude, mindset, success, commnunication, opportunity dan masih banyak istilah lain. Pemaknaannya dan penerapannya pun bermacam-macam.
Namun dari beberapa literature yang ada secara tersirat disebutkan bahwa entrepreneurship adalah hal yang memungkinkan terjadinya multiplier effect. Artinya seorang entrepreneur yang menerapkan entrepreneurship mampu menciptakan dampak positif bagi dirinya dan sekitarnya. Hal tersebut tidak terbatas hanya pada kata memberikan lapangan pekerjaan, tetapi lebih menekankan tentang bagaimana seseorang bermanfaat dan berperan bagi lingkungannya. Maksudnya entrepreneurship tidak hanya berbicara tentang seorang businessman yang memulai sebuah bisnis, kemudian bisnis tersebut mendatangkan profit bagi dirinya dan membuka kesempatan kerja bagi orang lain. Lebih dari itu entrepreneurship membahas tentang bagaimana setiap orang mampu berperan dan bermanfaat sesuai dengan jati dirinya, sehingga mempunyai peran yang berarti bagi dirinya secara pribadi dan sekitarnya sebagai dampak positif.
Yang dimaksud peran yang bermanfaat sesuai jati dirinya adalah sebagai berikut. Misalnya saja anda adalah orang yang senang dan ahli dalam bidang musik. Anda tidak suka dan tidak ahli dalam politik, akademis, dan sains. Anda hanya paham bahwa musik adalah hidup anda, dan anda senang serta ahli di bidang itu. Kemudian apakah anda lantas memaksakan diri anda terjun untuk menjadi seorang politikus, akademisi, dan saintis? Jika ya, berarti anda telah melakukan sebuah pemaksaan jati diri, jika tidak maka anda akan berpikir kembali…apakah musik mampu menopang kehidupan anda? Apakah musik akan bermanfaat bagi diri anda? Bukankah selama ini orang menganggap musik adalah hiburan semata dan tidak ada artinya?
Kini istilah mindset atau cara berpikir (dalam bahasa Indonesia), dapat digunakan untuk membantu paparan berikut ini. Anggun adalah penyanyi wanita Indonesia yang sukses di benua Eropa, tepatnya Perancis. Sejak kecil Anggun diarahkan oleh ayahnya bahwa ia adalah gadis yang piawai bernyanyi. Tertanam kuat dalam pikiran Anggun, bahwa penyanyi adalah masa depannya. Cara berpikir Anggun tersebut membakar semangat Anggun untuk terus maju hingga dia berhasil meraih impian sebagai penyanyi tenar di Perancis. Bahkan mindset Anggun menjadikan Anggun tidak menyadari, bahwa selama ini ia telah dilatih oleh seorang pelatih yang suaranya bahkan tidak memenuhi standar baik sekalipun. Ia hanya paham bahwa sang pelatih yang tak lain adalah ayahnya sendiri selalu menyadarkan Anggun bahwa bernyanyi adalah keahlian Anggun, ia akan sukses melalui dunia tarik suara.
Dari paparan di atas, mindset ayah Anggun adalah membentuk putrinya menjadi seorang seniman dalam seni tarik suara, karena ia tahu bahwa putrinya senang dan berbakat dalam hal tarik suara. Pada awalnya ia tidak berpikir tentang Eropa atau uang jutaan dolar yang akan didapat Anggun. Ayah Anggun hanya paham bahwa hidup Anggun akan bermanfaat bagi dirinya dan orang lain jika ia menekuni tarik suara. Kini hidup Anggun ditopang dari keahliannya bernyanyi dan orang lain merasa terhibur tatkala mendengar ia bernyanyi. Nah, bukankah menyanyi juga menciptakan manfaat bagi kehidupan di sekitar Anggun?
Demikianlah yang dimaksud dengan entrepreneurship, yaitu menciptakan nilai dan dampak tidak hanya bagi dirinya tetapi juga bagi sekitarnya, melalui berbagai cara sesuai dengan jati dirinya masing-masing. Ada yang berperan sebagai politikus handal yang menciptakan kemanfaatan bagi kesejahteraan negara melalui keahlian berstrategi dan diplomasi. Ada guru yang membagi ilmunya untuk murid-murid yang masih lugu. Hingga ada pula yang berperan sebagai karyawan yang menciptakan kemajuan dan inovasi bagi kemajuan perusahaannya. Kesemua peran tersebut merupakan peran yang telah disesuaikan dengan jati diri masing-masing pribadi untuk memberi nilai (added value) bagi dirinya sendiri dan lingkungan sekitar. Entrepreneurship adalah salah satu hal yang membantu peran-peran itu bekerja dengan maksimal sehingga menghasilkan sesuatu yang optimal.
Pembelajaran entrepreneurship di Ma Chung
Ma Chung sebagai universitas yang sadar akan isu terkini seputar pentingnya penerapan entrepreneurship, membuat suatu kurikulum khusus tentang pembelajaran entrepreneurship. Kurikulum tersebut dibuat berdasarkan fungsi dasar entrepreneurship yang telah disebutkan di atas, yaitu melahirkan entrepreneur-entrepreneur yang mampu menciptakan multiplier effect dan added value sesuai bidang keahlian dan jati diri masing-masing.
Metode pembelajarannya dimulai dengan pengenalan terhadap mindset seorang entrepreneur, mempelajari tokoh-tokoh yang telah menerapkan entrepreneurship, idea generation, hingga pengadaan expo. Kesemua metode pembelajaran tersebut diajarkan mulai semester satu hingga semester enam. Tujuannya adalah agar mahasiswa mampu mengenali potensi mereka, sehingga setelah mereka terjun ke masyarakat mereka dapat berperan dan memberi manfaat sesuai keahlian dan jati dirinya.
Dalam pembelajaran tersebut mahasiswa dikelompokkan dan setiap kelompok terdiri dari 10 sampai 11 orang. Setiap kelompok didampingi oleh mentor yang akan membimbing dan mengarahkan mereka dalam setiap kegiatannya.
Topik kegiatan dibebaskan sesuai dengan keinginan dan kesepakatan kelompok. Kegiatannya tidak harus bisnis, tetapi lebih menekankan kepada manfaat apa yang akan didapat pribadi dan sekitarnya melalui kegiatan yang telah mereka laksanakan.
Tim entrepreneurship telah menyiapkan manua pembelajaran dalam MLG. Setiap mahasiswa diharapkan membaca dan memahami setiap arahan yang diberikan.
Namun kelemahannya karena mahasiswa dibentuk dalam kelompok, tidak semua keinginan mahasiswa dapat diterapkan. Misalnya salah seorang mahasiswa ada yang gemar dan tertarik dengan politik, tetapi ada yang sebaliknya. Ada yang cenderung menyukai bisnis dan sangat menghindari politik.
Setiap mahasiswa dalam hal ini tidak dapat memaksakan keinginannya. Harus ada satu kegiatan yang mereka jalankan, walaupun salah satu atau beberapa tidak menyukai jenis kegiatan yang telah ditetapkan kelompok. Esensinya bukan terletak kepada jenis kegiatan yang dilaksanakan tetapi lebih kepada pemahaman mahasiswa tentang penerapan entrepreneurship dalam kehidupan mereka.
Walau demikian, tidak menutup kemungkinan jika kelompok melaksanakan sebuah kegiatan dimana seluruh anggota dapat melaksanakan kegemaran dan bakat masing-masing.

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: