jump to navigation

Internet Vs Pendidikan: “Bukan Sekadar Minim Infrastruktur tetapi Budaya Belajar Ruang Kelas” December 15, 2009

Posted by rachmaona in education.
Tags:
add a comment

Manusia adalah bentuk gabungan dari jiwa dan raga. Arah gerak raga tergantung pada arah gerak jiwanya. Arah gerak jiwa bergantung pada makna yang diisikan ke dalamnya. Proses pengisian makna untuk menuntun arah gerak jiwa itu bergantung pada pendidikan yang diikuti selama hidupnya.

Dalam bahasa Yunani pendidikan adalalah “Pedagogik” yaitu ilmu menuntun anak. Bangsa Jerman memberikan pandangan tentang Erziehung yang setara dengan educare, yaitu : membangkitkan kekuatan terpendam atau mengaktifkan kekuatan/potensi anak. Dalam bahasa Jawa, pendidikan berarti panggulawentah (pengolahan), mengolah, mengubah kejiwaan, mematangkan perasaan, pikiran, kemauan dan watak, mengubah kepribadian sang anak.

Mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan memiliki kata dasar didik (mendidik), yaitu : memelihara dan memberi latihan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Sedangkan pendidikan mempunyai pengertian : proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses perbuatan, cara pendidik. Ki Hajar Dewantara (bapak pendidikan Indonesia) mendefinisikan pendidikan sebagai daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya.

Pendidikan bukan sekedar penyampaian materi akademis tetapi lebih menyangkut pada pembangunan karakter dari peserta didik yang mengikuti proses belajar mengajar. Guru berperan sebagai fasilitator dalam pendidikan yang bertugas sebagai pemercepat proses belajar siswa (mendorong) dan bukan berfungsi sebagai tokoh yang mendominasi pendidikan. Dalam kata lain guru mendorong muridnya untuk tumbuh berdasarkan karakter dan potensinya untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya demi kreativitas yang mengarah pada kemajuan kehidupannya.

Internet dan Pendidikan
Berawal dari sebuah sejarah singkat aktivitas online melalui jaringan paket radio pada tahun 1993-1995 di Jawa Barat. Aktivitas tersebut akhirnya dapat menggabungkan sekolah-sekolah seperti STM Pembangunan di Cimahi, UNPAD, UNPAR dll menggunakan walkie talkie ke gateway di ITB. Akhirnya berlanjut pada tahun 1997-2000 dengan munculnya Jaringan AI3 Indonesia yang merupakan jaringan Internet pendidikan skala besar yang sifatnya relatif swadaya masyarakat yang pertama beroperasi di Indonesia. Kemudian melalui pengawasan Direktur Pendidikan Menengah Kejuruan di Dinas Pendidikan, DR. Gatot HP, mulai dikembangkan jaringan informasi sekolah yang menjadi tempat srharing pengetahuan antar guru SMK yang mulai mengandalkan mailing list dikmenjur@yahoo.com.
Pada tahun 2004 SMK di DKI dan Jawa Barat mulai mengembangkan WAN kota dengan membuat ISP kecil agar sekolah di kota tersebut dapat mendapatkan akses internet secara bersama dengan biaya murah. Implementasi WAN tersebut akhirnya disebarkan di 30-an kota di Indonesia. WAN DKI di SMK Jayawisata yang dipimpin leh Bona Simanjuntak diakui sebagai salah satu kategori WAN yang baik. WAN DKI muncul sebagi salah satu contoh WAN karena dikelola oleh sumber daya manusia yang memiliki motivasi dan semangat juang untuk membangun jaringan di kotanya. Pada tahun 2005 SMK tersebut dinobatkan menjadi ICT Center terbaik di Indonesia (dari wikipedia).
Internet sepanjang millenium baru menjadi primadona baru dalam komunikasi dan digunakan di berbagai kesempatan aktivitas manusia termasuk pendidikan. Internet dan generasi muda menjadi satu kesatuan yang menarik perhatian pasar teknologi komunikasi dan informasi, hingga pada tahun 2004 PT Telkom mengeluarkan program Internet goes to scholl. Bahkan pada tahun 2006 jaringan PT Telkom dimanfaatkan sebagai sarana penunjang pembangunan jaringan pendidikan nasional di bawah kepemimpinan Dr. Ir. Gatot Hari Priowirjono. Jaringan tersebut menghubungkan 464 titik (sampai 1 April 2007) yang menyambungkan 390 Dinas pendidikan kota/ kabupaten, 33 Kantor Dinas Pendidikan Propinsi, 20 Perguruan tinggi penyelenggara program teknisi, 3 unit Depdiknas Pusat, 2 PPPG, 5BPPLSP dan 1 LPMP.
Pendidikan sebagai proses pengembangan karakter dan pengetahuan serta wawasan manusia sangat diharapkan dapat menyebar secara merata di seluruh Indonesia. Internet sangat diharapkan berperan secara aktif dalam hal pemerataan pendidikan itu, karena sarana komunikasi murah dan efektif yang dianggap dapat memeratakan pendidikan saat ini adalah internet. Televisi, radio, buku, koran, majalah, maupun media ruang kelas konvensional memiliki segala keterbatasan baik jangkauan, kecepatan, dan biaya, sedangkan internet sebagai media baru sementara ini dapat meminimalisir ketiga hambatan tersebut.
Kelebihan yang dimiliki internet dibanding media pembelajaran lainnya adalah sebagai berikut:
1. memudahkan peserta didik mencari bahan referensi
2. mengurangi kendala jarak dalam penyampaian informasi
3. memudahkan peserta didik yang memiliki kendala jarak untuk berinteraksi dengan pengajar
4. kemudahakan untuk proses pemerataan informasi, pengetahuan, dan pengaruh pendidikan.
pada intinya internet mengatasi kendala waktu dan jarak yang sering dihadapi peserta didik dan pengajar terutama yang memiliki akses terbatas karena tidak berada di daerah pusat ibukota. Dalam segi biaya ketika internet telah dimiliki dan dapat digunakan maka penghematan terhadap biaya komunikasi dapat dilakukan karena internet menyediakan berbagai fasilitas untuk mendukung proses komunikasi. Namun bagi mereka yang belum memiliki akses internet, pengadaan internet menjadi hal yang memerlukan investasi besar, karena pengadaan internet memerlukan pengadaan piranti pendukungnya seperti PC dan jaringan telepon/wifi/Lan dan hal inilah yang terjadi di Indonesia saat ini.
Bagi negara yang memiliki luas wilayah dan jumlah penduduk besar seperti Indonesia penggunaan internet sangat membantu proses pemerataan informasi, pengetahuan dan pembangunan karakter pendidikan. Hanya saja masalah klasik berupa minimnya infrastruktur pendukung internet di Indonesia sangat terbatas. Infrastuktur tersebut berupa SDM, kesiapan piranti pendukung, dan sistem pendidikan itu sendiri.
Sistem pengajaran konvensional menggunakan ruang kelas merupakan hal unik yang perlu dipertimbangkan untuk mendorong pendidikan Indonesia menjadi pendidikan virtual dengan teknologi internet. Ruang kelas dan hadirnya pengajar serta peserta didik dipandang masih perlu dilakukan karena ada proses pertukaran motivasi dan psikologi dari keduanya yang akan sulit didapat dari pendidikan virtual.
Akhirnya muncullah berbagai penerapan seperti mahasiswa hanya menggunakan internet untuk menambah referensi bahan bacaan dan tetap masuk ruang perkuliahan seperti biasa. Ada juga yang menerapkan mix dan disebut sebagai Blended Learning yang menggabungkan sistem pengajaran melalui kelas dan virtual. Bahkan ada pula yang berani memberikan kelas virtual dan menjaring 24.000 mahasiswa aktif tiap semesternya seperti Binus University.
Internet juga dikembangkan sebagai pusat diskusi, penyebaran informasi, hingga penilaian terhadap kinerja dosen. Internet menjadi media pembelajaran yang dapat dimanfaatkan untuk memeratakan proses pendidikan dengan meminimalisir kendala jarak, waktu dan biaya. Penerapan internet di Indonesia tidak hanya masalah infrastruktutr tetapi juga paradigma pembelajaran konvensional melalui kelas. Walaupun sudah ada model Blended learning yang berusaha memadukan unsur manfaat internet dan pengajaran konvensional, tetapi pemanfaatannya dan pengetahuan untuk menggunakannnya sementara ini terbatas. Hal penting yang perlu dilakukan adalah melakukan kajian tentang internet dan pendidikan serta mengikutsertakan pengajar dan peserta didik melalui partisipasi aktif untuk memanfaatkan internet sebagai media pendidikan. Partisipasi aktif yang dimaksud adalah peserta didik dan pengajar terlibat secara aktif dalam usaha pengembangan internet untuk pendidikan. Klub Guru Indonesia dan jaringan antar sekolah yang dibangun Telkom dapat menjadi sarana efektif untuk mendukung terciptanya hal itu. Masalah krusial pemanfaatan internet untuk pendidikan terletak pada pola pikir peserta didik dan pengajar, walaupun infrastruktur telah disiapkan jika individu yang menerima belum siap maka semuanya akan percuma. Oleh karena itu intensitas penyebaran ide pemanfaatan internet serta pencarian metode penggunaan internet tanpa menghilangkan unsur ikatan emosional dan motivasi antara pengajar dan peserta didik adalah hal yang terpenting. Program-Program seperti Internet Goes to Scholl, pemanfaatan komunitas pembelajar Online dapat menjadi pelopor dan inspirator penggunaan internet, kerjasama dengan mereka penting untuk dilakukan bukan hanya masalah pembangunan infrastruktur.

Advertisements

Bekerja adalah Karsa, Karya dan Ibadah January 9, 2009

Posted by rachmaona in 1, education.
add a comment
  • 7 desember 2008
    7:15pm
    Bekerja adalah ibadah, karsa, dan karya bukan karena terpaksa (Nira Surya). Kata-kata itu didengungkan oleh seorang guru bijak saya bernama Nira Surya. Beliau telah mengabdi di SMA Negeri 5 Balikpapan, yang notabene adalah sekolah saya sendiri , selama kurang lebih lima belas tahun.
    Kata-kata mutiara di atas dilontarkan Bu Nira Surya dalam rangka menanggapi cerita saya. Cerita tersebut menyangkut minimnya sikap profesional pada salah seorang guru di SMA Negeri 5 Balikpapan.
    Berikut adalah cerita yang saya paparkan ke guru saya,
    Pagi itu setelah limabelas menit guru KP (kurang profesional) duduk di bangku keramat ruang kelas, ia memberi teladan sesat kepada anak muridnya.
    “Udah ya saya pergi dulu, ingat jangan bilang-bilang kalau saya perginya sebelum bel bunyi. Kalau ditanya bilang saja saya ke kamar mandi, saya ada urusan bisnis, penting. Nanti ujiannya gampang tenang aja kok nggak usah dipikir…”
    Di lain hari, ketika saya mengadakan acara perpisahan kelas, guru KP tersebut rupanya hadir. Di depan saya dan beberapa orangteman saya dia memberikan petuah yang sangat tidak masuk akal dilontarkan oleh seorang guru perempuan,
    “lho menurut saya merokok itu nggak apa-apa,,,,,,toh saya juga perokok, bu itu tuh….malah perokok berat….nggak masalah lah.”
    (more…)

Ilmu dan KeTuhanan bagai Dua Sisi Mata Uang December 28, 2008

Posted by rachmaona in education.
add a comment

Kazuo Murakami, seorang pakar genetika terkemuka di dunia, dalam bukunya yang berjudul The Divine Massage of DNA. Menerangkan bahwa ujung dari segala penelitian yang telah ia lakukan adalah rasa kekagumannya yang mendalam pada sebuah titik, yang ia sebut sebagai “Sang Agung”.
Dalam setiap penelitiannya ia selalu menemuka bahwa gen mempunyai sistem kerja yang luar biasa dan tidak mungkin tercipta dari sesuatu yang biasa. Susunan dan kerja gen yang luar biasa pasti berasal dari suatu hal yang luar biasa pula. Murakami menyebut sesuatu yang luar biasa tersebut sebagai ” Sang Agung”.

(more…)

Rendah Hati dalam setiap episode December 20, 2008

Posted by rachmaona in education.
add a comment

Ketika saya menghadiri Rapat Umum Pemegang Saham beberapa waktu yang lalu, saya sempat menyayangkan sikap salah seorang pemegang saham , sebut saja Mr. Alamsyah yang secara tidak langsung tetapi jelas mengatakan bahwa konsep yang saya buat kurang sesuai dan disebut sebagai konsep mati yang hanya berakhir di atas kertas………………

Dianggap penting, merasa paling penting, dan ingin menjadi yang paling penting. Ketiga pikiran jahat tersebut seringkali muncul baik secara sadar maupun tidak. Sistem kerja pikiran jahat tersebut menyerupai sistem kerja hipnotis. Ketika pikiran seseorang telah tertuju kepada ketiga hal di atas, biasanya dengan mudah ia akan terdorong untuk melakukan hal-hal yang condong kepada perbuatan tinggi hati.

Ketika saya menghadiri Rapat Umum Pemegang Saham beberapa waktu yang lalu, saya sempat menyayangkan sikap salah seorang pemegang saham , sebut saja Mr. Alamsyah yang secara tidak langsung tetapi jelas mengatakan bahwa konsep yang saya buat kurang sesuai dan disebut sebagai konsep mati yang hanya berakhir di atas kertas. Kinerja saya dianggap kurang memenuhi standar (standar miliknya), dan masih banyak sindiran yang sempat ia lontarkan untuk merendahkan usaha saya. Pada dasarnya saya sangat paham jika kinerja yang telah saya lakukan untuk perusahaan amatlah kurang dari standar, tetapi yang saya harapkan bukan sekadar hinaan melainkan saran atau kritik konstruktif yang berdampak baik terhadap kinerja saya ke depan.

Pada rapat tersebut saya sempat geram dan terlibat adu mulut dengan Mr Almsyah. Dengan tegas saya katakan kepada Alamsyah, bahwa saya tahu persis jika kinerja saya selama bergabung dalam perusahaan yang ia pimpin amatlah jauh dari apa yag diharapkan. Namun dalam rapat kali itu saya sangat berharap bisa mendapatkan saran dari seluruh peserta rapat, dan dengan tegas saya katakan bahwa saya sangat kecewa.
(more…)