jump to navigation

Ancaman Persaingan Ekonomi Kreatif Terhadap Nasionalisme Bangsa October 14, 2009

Posted by rachmaona in ekonomi.
1 comment so far

Dominasi UKM dalam Ekonomi Kreatif

Ekonomi kreatif adalah wacana baru yang sedang dikaji dan dicoba untuk diimplementasi secara serius oleh pemerintah dalam hal ini Departemen Perdagangan. Dalam berbagai naskah studi ekonomi kreatif dan pemaparan Mari Elka Pangestu di media massa, ekonomi kreatif digambarkan sebagai sebuah kondisi ekonomi yang dipenuhi oleh daya kreativitas dalam hal penciptaan nilai tambah, strategi manajemen, hingga kepiawaian dalam menangkap peluang. Daya kreativitas yang diharapkan bahkan hingga menyentuh pada usaha untuk menjaga kelestarian unsur budaya lokal dan lingkungan, pemanfaatan energi yang terbarukan serta kemampuan untuk berkolaborasi dan mengorkestrasi dalam satu wadah kegiatan ekonomi.

Secara wacana, ekonomi kreatif memiliki arah yang tidak  hanya menguntungkan secara ekonomi tetapi juga secara moral, budaya, alam dan lingkungan masyarakat. Daya kreativitas yang timbul dari ekonomi kreatif, berdampak positif terhadap peningkatan kapasitas daya saing dan inovasi. Dibalik segala manfaat yang diharapkan dari ekonomi kreatif terdapat satu kenyataan yang tidak boleh dihilangkan yaitu dominasi usaha kelas kecil dan menengah (UKM) di Indonesia.

UKM dengan segala kekuatannya yang terbukti tahan terhadap terpaan krisis, di sisi lain juga memiliki persoalan dan kelemahan yaitu persaingan tidak sehat diantara UKM itu sendiri hingga persaingan dengan perusahaan besar padat modal dan berkapasitas produksi massal. Persaingan sebenarnya juga dapat dijadikan faktor pemicu berkembangnya kreativitas, tetapi jika persaingan berlangsung tidak adil yang terjadi adalah melemahnya ekonomi kreatif itu sendiri. (more…)

Advertisements

Tanduk Majeng Presented in Bangkok March 12, 2009

Posted by rachmaona in ekonomi.
add a comment

Namanya tidak terlalu sulit untuk diingat. Bu Tini….

Wanita satu ini juga sulit untuk dilupakan walaupun hanya sekali saja anda bertemu dengannya. Logat Madura dan guyonan  segar yang ia tawarkan dijamin membuat anda ketagihan untuk  bertemu dengannya. Terhibur? Pastinya…… Tapi bukan sifat Bu Tini yang pandai ber-guyon ria yang ingin saya paparkan dalam tulisan ini, tetapi lebih kepada karakter bisnis dan social entrepreneur yang dimiliki oleh Bu Tini.

“Nama saya Bu Tini mbak“, begitulah cara beliau memperkenalkan diri kepada saya.

Bu Tini berdarah Madura, usianya kurang lebih 40 tahun ke atas dan menamatkan pendidikan terakhirnya di bangku SMA kota Situbondo.   Ia seorang wiraswasta di bidang pengolahan makanan dari kota Situbanda. Kripik gayam menjadi produk andalan beliau.

Kini Bu Tini telah tergabung dalam sebuah organisasi bernama HWPRI (Himpunan Wanita Pekerja Rumahan Indonesia).  HWPRI yang didirikan sejak tahun 1995 menampung para wanita yang mempunyai kegiatan perekonomian di rumahnya. Bu Tini yang tertarik karena merasa mempunyai latar belakang wanita pekerja rumahan tersebut merasa perlu bergabung dengan HWPRI, dan saat ini Bu Tini menjabat sebagai ketua HWPRI nasional.

Ketika saya berdialog langsung dengan Bu Tini, Bu Tini menceritakan suka dukanya dalam menjalankan kewajibannya di HWPRI. HWPRI selain menjadi wadah untuk mengembangkan kegiatan perekonomian anggotanya, juga sangat peduli dengan pemberdayaan wanita pekerja rumahan yang pendapatannya sangat minim. Terutama wanita pekerja rumahan yang bekerja sebagai tenaga lepas. Tenaga lepas adalah para wanita yang mengambil garapan dari rumah majikannya dan mengerjakannya di rumah atau oleh majikannya disediakan tempat khusus untuk mengerjakan pekerjaan mereka. Bu Tini dan kawan-kawannya di HWPRI membantu para wanita tersebut melalui kegiatan-kegiatan bakti sosial, pelatihan dan pembinaan.

Yang menarik adalah pengalaman BU Tini sebagai perwakilan HWPRI Indonesia yang harus presentasi di Bangkok Thailand dalam acara yang diselenggarakan oleh OXfam.

“Saya waktu itu presentasi di Bangkok. Itu pengalaman pertama saya pergi naik pesawat dan ke luar negeri. di sana saya harus presentasi di depan perwakilan negara-negara di ASEAN. Pake bahasa Inggris lagi. jadi setelah saya buat draft materi yang harus saya sampaikan, saya meminta bantuan teman saya yang fasih bahasa inggris untuk mentranslate-nya. Tapi jangan tanya waktu saya harus menjawab pertanyaan. Teman saya yang akhirnya saya gandeng ke depan….Hehehe…..”, katanya sambil tertawa.

Mendengar pengalamannya yang satu itu satu hal yang saya katakan pada beliau…..

WAH…..salut bu….semangat.